Agresivitas Yang Dilakukan Anak Harus Diwaspadai

998 Kali dibaca, Diterbitkan: 12 August 2014        


“Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka dia akan belajar memaki”

“Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka dia akan belajar berkelahi”

Kutipan puisi terkenal berjudul “Children Learn What They Live” karya penulis asal Amerika Serikat, Dorothy Law Notle, tersebut menggambarkan bahwa pola asuh dan lingkungan berperan dalam membentuk karakter seorang anak. Termasuk dalam hal ini sikap kekerasan atau agresivitas pada si kecil.

Sikap agresif pada anak bentuknya macam-macam, bisa berbentuk verbal seperti mencaci-maki dan mencemooh, atau bersifat fisik, mulai dari memukul, melempar, menendang, dan banyak lagi.

Penjelasan tersebut diamini oleh beberapa psikolog. Menurut mereka, agresivitas adalah perilaku yang tujuannya melukai orang lain, baik langsung maupun tidak langsung. Bentuk agresivitas langsung ditandai dengan serangan fisik seperti memukul, sementara yang tidak langsung berbentuk verbal atau ucapan.

Dari mana sikap agresif terbentuk?

Seorang anak terlahir dengan temperamen bawaan. Ada yang memang punya kecenderungan temperamental dan cepat marah, ada yang tidak. Namun, apa yang terbawa dari lahir juga akan dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan memperlakukannya.

“Kalau lingkungan membolehkan temperamen marah yang lebih dominan, maka jadilah individu tersebut pemarah atau agresif. Sebaliknya jika lingkungan tidak mendukung munculnya temperamen agresif, maka hal itu tidak akan terbentuk dalam dirinya.”

Bisa jadi pula, temperamen bawaan anak tidak pemarah, tapi kondisi lingkungan sekitar “mendukung”, maka anak akan belajar membentuk temperamen agresif dengan meniru apa yang dilakukan oleh lingkungan terutama keluarga, baik orangtua, saudara atau pengasuh.

“Kalau lingkungan membolehkan, agresivitas bisa muncul di usia dini. Orangtua yang menggunakan kata-kata kasar akan langsung ditiru oleh anaknya, sebab anak tidak tahu norma bahwa itu tidak boleh. Kalau orangtua selalu memukul, anak pun akan meniru. Dia akan melakukan hal yang sama pada temannya.”

Itu sebabnya, factor nature (bawaan lahir) maupun nurture (pola asuh lingkungan tempat si anak tumbuh dan berkembang) sangat menentukan jenis temperamen anak kelak.

“Pola asuh orangtua di rumah memiliki andil besar dalam membentuk karakter anak. Jika sejak kecil anak terbiasa melihat kekerasan di rumah dan lingkungan sekitar, maka ia akan meniru. Jadi, sebelum ‘menyalahkan’ orang lain, evaluasi dulu diri anda sebagai orangtua dan lingkungan rumah.”

Apakah anda sering marah, melempar piring, membanting pintu? Atau, saat sedang mengemudikan kendaraan di jalan, anda sering marah-marah dan mengeluarkan kata-kata kasar? Hati-hati, karena berbagai perilaku negative anda tersebut bisa ditiru oleh anak.

Memang, persoalan agresivitas tak lepas dari bagaimana norma di lingkungan ditegakkan. Pada lingkungan yang tidak pernah melakukan kekerasan verbal, maka jika sedikit saja si kecil mengutarakan kata-kata kasar yang dia contoh dari temannya, itu sudah menjadi sesuatu yang menghebohkan buat keluarga. Sebaliknya, bagi keluarga yang mengabaikan norma, anak bicara sekasar apa pun akan dianggap biasa dan didiamkan begitu saja.

“Selain itu, media menjadi salah satu faktor penyebab anak menjadi agresif. Melalui tayangan di televisi, anak akan meniru ekspresi seseorang yang sedang marah. Mungkin ia tidak mengerti artinya, tapi anak bisa melihat bagaimana ekspresi orang marah dan kata-kata yang dikeluarkan.”

Harus diingat jangan kita pernah menganggap wajar sikap agresif pada anak, apalagi dengan beranggapan “Ah, namanya juga anak-anak, masih kecil dan belum mengerti.”

“Tahukan anda dampaknya? Jika sedari kecil anak yang bicara kasar didiamkan, maka ini akan menyuburkan perilaku agresif dalam dirinya. Mengapa? Karena anak tidak tahu batasannya, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh.”

Apalagi, sikap agresif bisa muncul sejak dini. Karena itu, sejak usia lima tahun, ajarkan anak untuk mengeluarkan ekspresi marah dengan tepat. Katakan padanya bahwa ia boleh saja mengeluarkan rasa kecewa atau ketidaksukaan terhadap sesuatu atau seseorang, asal tetap memperhatikan beberapa hal. Misalnya, anak boleh saja marah tapi jangan teriak-teriak. Atau, anak boleh marah tapi ia juga harus bicara apa penyebabnya. Ajarkan juga bahwa anak boleh marah tapi jangan di tempat umum atau tempat ibadah. Intinya, jangan larang anak untuk marah, tapi ajarkan dia cara untuk menyalurkan amarah dengan cara dan di tempat yang tepat.

Selain itu, orangtua harus peka dan segera bertindak jika anak mulai menunjukan sifat agresif. “Orangtua harus memberi contoh bahwa bersikap kasar itu tidak boleh. Misalnya, jika anak menginginkan sesuatu tapi tidak mendapatkannya, lantas dia memukul ibunya, ini jangan dibalas dengan memarahi apalagi memukulnya balik.”

Sebaliknya, anda bisa melakukan antisipasi. Jika tahu anak akan memukul, pegang tangannya erat. Setelah itu, lepaskan lagi. Tunggu sampai emosinya reda dan anak menjadi tenang, baru kemudian bicarakan bahwa memukul itu tidak diperbolehkan.

“Bagaimana jika anak malah mengingatkan bahwa dulu kita sebagai orangtua juga pernah memukulnya? Akui bahwa anda salah, dan minta maaflah pada anak anda.”

Bagaimana jika anak sudah telanjur menunjukkan agresivitas? “Lakukan pengalihan ke hal-hal yang bisa mengekspresikan agresivitas anak. Paling sederhana adalah olahraga, seperti berenang. Aktivitas seperti ini sangat efektif dalam mengeluarkan emosi seseorang karena membutuhkan tenaga yang besar.”

Selain olahraga, pilihan aktivitas lain adalah bermain musik atau menulis. “Ketika anak marah, berikan buku dan alat tulis. Bebaskan dia untuk menulis, menggambar, atau bahkan sekedar mencoret-coret kertasnya. Ini adalah salah satu cara mengarahkan emosinya.”

Yang paling penting, latihlah anak untuk bicara. “Orangtua bisa memancing dengan bercerita lebih dahulu tentang kejadian tadi pagi yang membuatnya nyaris emosi. Dengan begitu, anak akan terbiasa menyampaikan kepada orangtua tentang apa yang membuatnya marah tanpa harus bersikap agresif.”

Beberapa psikolog juga sepakat bahwa jika sejak kecil anak terbiasa menunjukkan perilaku agresif dan dibiarkan oleh orangtua, maka dampaknya akan terbawa hingga dewasa. Karena itu, jika agresivitas anak masih ada setelah anda melakukan saran-saran di atas, bawalah si kecil ke psikolog. “Peran paling besar ada pada orangtua untuk mengarahkan anak dengan benar. Sejak awal, terapkanlah pola asuh yang penuh kasih sayang dan tanpa agresivitas, baik dalam perilaku maupun ucapan. Itulah yang akan ditiru anak, sebab setiap anak adalah peniru ulung.”

“Jika sejak kecil anak terbiasa menunjukkan perilaku agresif dan dibiarkan oleh orangtua, maka dampaknya akan terbawa hingga dewasa”

Categories: Artikel, Gaya Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *