Jumat 13 November 2020 – Renungan Pagi

7 Kali dibaca, Diterbitkan: 14 November 2020        


MINGGU XXIII SES. PENTAKOSTA

GB. 101 : 1 – Berdoa

Yesaya 42 : 1 – 4

Misi Kehambaan

Dalam penghayatan atas panggilan orang percaya, dikenal pembedaan istilah yang tegas antara “pelayan yang memimpin” dan “pemimpin yang melayani”. Kedua istilah ini sejatinya tidak terpisahkan dan membentuk kesatuan panggilan serta pengutusan seorang pelayan Tuhan. Secara teologis praktis, ketika dipertanyakan, mana yang secara Alkitabiah terlebih dulu ada antara “melayani” dan “memimpin? Orang biasanya akan mengatakan, bahwa kita dipanggil pertama-tama untuk melayani dan menjadi pelayan atau seorang hamba, baru kemudian menjadi pemimpin. Sering disebut, bahwa misi kehambaan adalah given (anugerah). Sementara misi kepemimpinan adalah bentukan dari proses pematangan dan pendewasaan menjalani tugas-tugas sebagai pelayan atau hamba Tuhan.

Hamba Tuhan yang digambarkan di sini adalah orang pilihan-Nya. Karena ia diperkenankan Tuhan maka Roh-Nya bekerja atasnya (ay.1). Misi kehambaannya adalah menyatakan hukum-Nya, yaitu tata pemerintahan Tuhan. Di mana Tuhan meraja, maka kasih, keadilan dan solidaritas menjadi laku yang dihidupi umat. Misi ini dijalankan dengan senyap, artinya tanpa suara keras memaksa-maksa. Misi ini sering dicibir bagaikan ‘buluh yang patah” atau “sumbu yang pudar”. Mengapa? Karena terhadap umat yang tegar tengkuk, maka seharusnya alat yang dipakai adalah kayu atau besi yang kuat, ataupun api besar yang menghanguskan.

Namun demikian Roh Tuhan memberi jaminan, bahwa sumbu sekalipun akan pudar, dan buluh yang terlihat rapuh tidak akan patah. Misi hamba Tuhan ini adalah pembaruan hati. Karena itu caranya pun menyentuh hati.

GB. 101 : 2
Doa : (Tolong bentuklah kami Tuhan menjadi hamba-Mu yang berkenan dan setia)

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *