JUMAT, 17 MEI 2019 – Renungan Malam

55 Kali dibaca, Diterbitkan: 17 May 2019        


 

MINGGU III SESUDAH PASKAH

GB.249:1,2 – Berdoa

BERBAHAGIALAH !!

Matius 5 : 7 – 9
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (ay.9)

Pada saat mana Anda dikatakan bahagia? Biasanya kata bahagia dihubungkan dengan keberhasilan, kekayaan dan segala sesuatu yang kita impikan menjadi kenyataan yang membuat kita bahagia! Namun, setelah semua keinginan terpenuhi, apakah ia benar-benar bahagia? Belum tentu!! Jadi, hal seperti apa membuat kita sungguh-sungguh bahagia? Kata “bahagia” (Yun.: makarios): suatu sukacita (Joy) yang tidak terganggu oleh sikon. Kata berbahagialah” atau “diberkatilah” menunjuk pada kebahagiaan dalam perspektif/ pandangan Tuhan. Bisa saja pandangan Tuhan ini bertentangan dengan pandangan manusia, bahkan realitas yang biasa kita rasakan atau alami, tetapi kita bisa tetap bahagia. Menariknya, setiap ucapan bahagia Yesus selalu diakhiri dengan janji. Apa artinya? Di ayat 7-9, ada 3 kali Yesus berkata hal memperoleh kebahagiaan itu.

Pertama, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Mat.5:7). Jika kita ingin beroleh kemurahan, maka kita pun harus bermurah hati. Artinya, suka memberi, tidak pelit dan suka menolong. Karakter inilah yang harus dikembangkan dalam diri setiap anak Tuhan, sebab kekristenan itu identik dengan kasih dan salah satu buktinya adalah murah hati. Kemurahan merupakan salah satu buah Roh yang harus kita hasilkan (Gal.5:22-23). Kedua, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. “Yang dimaksud “hati” di sini bukanlah organ dalam tubuh kita, bukan pula sekadar perasaan. Hati sebagai pusat kehidupan mencakup pikiran dan perasaan. Ini tentang aspek batiniah manusia. Hati merujuk pada kondisi moral dan spiritualitas manusia. Penampilan luar yang baik, tetapi tidak disertai kebaikan dari dalam adalah kemunafikan.

Ketiga, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Orang yang suka ribut, menjadi batu sandungan, membuat orang lain sakit hati. Orang yang tidak suka berdamai, tidak layak disebut sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu berbahagialah kita yang murah hati, suci hati dan suka berdamai, karena itulah yang dikehendaki Tuhan.

GB.250 : 1,3,4
Doa : (Ya Bapa, kami sungguh berbahagia karena Engkau mengutus kami menyampaikan kabar baik bagi semua orang)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *