JUMAT, 17 MEI 2019 – Renungan Pagi

71 Kali dibaca, Diterbitkan: 17 May 2019        


 

MINGGU III SESUDAH PASKAH

KJ.190:1,2 – Berdoa

IMAMAT YANG SEJATI

Ibrani 10:19-25
“…oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus” (ay.19)

Pada suatu hari di kebun binatang seorang anak jatuh ke dalam lubang beruang. Semua orang tampak ketakutan. Tiba-tiba seorang pria melompat turun, berjuang melawan beruang itu. Pria dan anak itu berhasil diselamatkan. Semua orang bertepuk tangan, bagi tindakan heroik pria itu. “Anda begitu berani terjun untuk menyelamatkan anak kecil ini. Kami berterima kasih atas pengorbanan Anda! Mungkin Anda ingin menyampaikan sesuatu?” Pria itu menyambar mikrofon dan berkata: “Anda tidak perlu berterima kasih pada saya. Saya ingin tahu: Siapa yang mendorong saya tadi hingga jatuh kebawah?” Apa yang dilakukan pria ini ternyata sebuah kecelakaan, bukan suatu pengorbanan. Dia sama sekali tidak berniat menyelamatkan anak kecil itu. Justru dia merasa sebagai korban.

Berbeda dengan itu, peran seorang imam berdiri membawa korban syukur, korban pengakuan dosa kepada Allah. Dulu, orang Israel tidak memiliki akses langsung ke ruang Mahakudus. Sekali setahun diwakili oleh imam besar mereka membawa persembahan korban (lb.9:7). Namun, melalui kematian Yesus di kayu salib, maka Yesus telah menjadi imam Besar yang mempersembahkan tubuh, darah-Nya sebagai persembahan korban yang sempurna untuk selamanya (ay.19), sehingga jalan baru tersedia. Dulu, ketika seseorang akan masuk ke Bait Allah, Ia harus menyucikan dirinya, serta membawa korban persembahan syukur, baru boleh masuk. Bagaimana dengan peribadahan dan sikap kita saat memberi persembahan syukur kepada Tuhan?

Banyak orang Kristen asal saja beribadah memberi persembahan syukurnya. Beribadah hanya secara rutinitas, ritual dan liturgis. Bahkan, sepanjang ibadah ada yang main gadget, HP atau ngobrol, tidur makan permen. Datang sudah pertengahan ibadah, pulang sebelum berkat. Penulis Ibrani menasihatkan, agar menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan iman yang teguh. Jangan menjauhkan diri dari persekutuan ibadah kita, seperti dibiasakan beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

GB.164: 1,2,3
Doa : (Ya Bapa, ajar kami tekun bersekutu dengan-Mu sebagai mengungkapkan syukur atas kasih dan pengorbanan-Mu bagi kami)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *