Jumat, 27 April 2018 – Renungan Malam

21 Kali dibaca, Diterbitkan: 27 April 2018        


 

Minggu III Sesudah Paskah

Jumat, 27 April 2018
Renungan Malam

MENGASIHI ISTERI

Efesus 5 : 32-33
“….kasihilah isterimu seperti dlri sendiri…” (ay.33b)

Ketika Tuhan Allah selesai menciptakan laki-laki (Adam), Allah berfirman: “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia” (Kej 2:18). Allah menciptakan seorang perempuan, tidak seperti ketika ia menciptakan Adam. la mengambil rusuk laki-laki, dan dari rusuk itu dibangunnyalah seorang perempuan. Disebutnya perempuan sebab diambil dari laki-laki (Kej 2:21,22). Dengan demikian isteri diciptakan dan dihadirkan bagi laki-laki (sebagai suami) sebagai pendamping untuk dikasihi. Perikop bacaan kita mengatakan: suami harus mengasihi isteri-nya seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya. Kristus telah menyerah-kan diri-Nya untuk jemaat-Nya. Itu berarti seorang suami harus rela berkorban bagi isterinya. Seorang suami, tidak mungkin menga-sihi isterinya tanpa kerelaan untuk berkorban. Dalam kenyataan hidup, kita bertemu dengan isteri-isteri yang usianya masih sangat muda, tapi dari wajahnya sudah kelihatan “tua banget”. Mengapa? Dan ada apa? Salah satu sebabnya, ka-rena tidak disayang suami. Suami tidak rela berkorban. Karena pengorbanan-Nya, Kristus telah menempatkan jemaat-Nya sebagai vang indah” dan “mulia” dihadapan-Nya. Demikian seharusnya .dilakuKan oleh seorang suami. Pengorbanannya terhadap sang isteri haruslah menempatkan sang isteri sebagai yang indah, mulia dan cantik bagi suami. Seorang suami harus mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri. Tidak ada orang yang membenci tubuhnya melainkan mengasuh dan merawat tubuhnya. Berlaku kasar atau berbuat jahat terhadap isteri berarti berbuat jahat dan berlaku kasar terhadap diri sendiri. Kesatuan suami isteri merupakan suatu persekuan yang utuh karena mereka telah dipersatukan menjadi “satu daging”. Walter Trobisch mengatakan: “suami isteri yang telah dipersatukan Tuhan ibarat dua kertas tipis yang dilem. Memisahkan dua kertas tipis, itu berarti merobek kertas itu. Masing-masing pihak, dalam hal ini suami isteri akan mengalami akibat daripada perceraian itu. Dan kalau ada anak-anak yang lahir dalam perkawinan, mereka akan menjadi korban perceraian. Mari membangun rumah tangga diatas dasar kasih.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *