Jumat, 29 Desember 2017 – Renungan Malam

111 Kali dibaca, Diterbitkan: 26 December 2017        


 

MINGGU ADVEN IV
JUMAT, 29 DESEMBER 2017

Renungan Malam

MEMAKNAI KETIDAKSEMPURNAAN

Ulangan 5:23-27
“…bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang…” (ay.24,25)

Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun yang diresmikan 12 Mei 2015 yang lalu oleh Presideng Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie kini menjadi ‘ikon’ Kota Pare Pare. Lokasi monumen sekitaran alun-alun Andi Makassau dengan berdiri tegak patung berbahan perunggu sepasang Kekasih setinggi kurang lebih 4 meter (Bapak Habibie merangkul mendiang Ibu Ainun) kini menjadi titik berkumpul warga di ruang terbuka publik. Monumen yang akan menginspirasi warga seiring keteladan sosok Bapak Habibie dan mendiang istri yang dikasihinya. Penggalan relief tulisan di kaki patung: “Cinta Sejati” dari kalimat utuh “Monumen Cinta Sejati Habibie Ainun” menjadi pesan universal untuk mengkonstruksi kehidupan dengan semangat cinta dan realitas perjumpaannya dengan kerapuhan yang hadir dalam ragam ketidaksempurnaan. “Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapapun”..” demikian butir tulisan refleksi B. J. Habibie. Memaknai ketidaksempurnaan untuk tetap menemukan kebahagiaan dan kepenuhan hidup melalui “Cinta Sejati”.

Dalam wejangan kepada umat Israel yang akan memasuki Tanah Terjanji, Musa merefleksikan kembali momen perjumpaan umat dengan kedahsyatan kehadiran Allah hingga sampai pada pengakuan akan kerapuhan dan ketidaksempurnaan mereka berhadapan dengan kedahsyatan kehadiran Allah itu. Semata-mata belas kasihan Allah kala dalam hadirat-Nya manusia berkenan dijumpai-Nya. Lautan rahmat kerahiman-Nya memungkinkan kerapuhan dan ketidaksempurnaan menemukan makna baru di tengah-tengah manusia membangun kembali konstruksi cinta yang telah hancur berkeping atau puing-puing asa kehidupan yang dicoba ditata kembali untuk menemukan kebahagiaan berarti.

Kehidupan dalam ragam peristiwa bisa hadir dalam kondisi-kondisi tidak ideal. Idealisme yang kita bangun pun tidak pernah ‘berdiri tunggal’, betapa natur kita perlu terus belajar dari yang Sempurna yaitu Allah sendiri Yang Maha Sempurna.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *