Jumat, 6 April 2018 – Renungan Pagi

21 Kali dibaca, Diterbitkan: 6 April 2018        


 

Minggu Paskah

Jumat, 6 April 2018
Renungan Pagi

PENGAKUAN MENDATANGKAN DAMAI DI HATI

2 Tawarikh 30 : 1 – 9
Sebab TUHAN, Allahmu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!” (ay.9b)

Suatu hari, seorang guru meminta murid-muridnya membawa satu kantung plastik yang berisi beberapa buah tomat. Setiap murid diperintahkan menulis sifat-sifat buruk yang mereka miliki yang sulit dihilangkan dan menempelkannya pada tomat-tomat tersebut. Lalu mereka diwajibkan membawa kemanapun mereka pergi selama satu minggu penuh. Kantung itu harus ada di samping mereka saat tidur, saat belajar dan saat bepergian. Lama kelamaan tomat-tomat itu membusuk dan sangat mengganggu. Belum seminggu, mereka menyerah dan meminta agar tomat-tomat busuk itu dapat dibuang.
Selain Yosia, Hizkia adalah raja yang turut melakukan pembaruan iman dikalangan bangsa Israel. Satu hal yang selalu ditekankan Hizkia adalah soal pertobatan sejati. Umat harus sungguh-sungguh menyadari bahwa apa yang pernah mereka lakukan merupakan tindakan yang menyakiti hati Tuhan dan harus segera ditinggalkan. Umat harus kembali kepada Allah dengan meninggalkan dosa mereka. Memberontak terhadap firman-Nya hanya mendatangkan kebinasaan umat. Hizkia mengajak umat untuk mengerti bahwa seluruh relasi dengan penguasa, baik Allah maupun manusia bersifat perjanjian.
Manusia terikat dalam suatu perjanjian atau kontrak dengan Allah sebagai Penguasa tunggal. Orang yang menaati perjanjian mendapat berkat, sedangkan yang melanggar mendapat kutuk. Allah berkenan kepada mereka yang memilih bertobat dan menanggalkan semua dosa. Psikolog modern mulai dari Freud, Jung, Adler sepakat menyatakan apa yang ada dalam hati kita, perlu diakui agar tidak menjadi barang busuk dan mengganggu kehidupan kita. Bila bersalah tak ada jalan lain, akui di hadapan Allah dan tinggalkan dosa segera. Sudahkah kita mengakui semua tabiat dan sifat yang buruk kita di hadapan Tuhan ?


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *