Kamis, 1 Februari 2018 – Renungan Pagi

153 Kali dibaca, Diterbitkan: 28 January 2018        


 

Minggu IV Sesudah Epifania

Kamis, 1 Februari 2018
Renungan Pagi

BERSEKUTU UNTUK BERSAKSI

Kisah Para Rasul 2:41-42
“… dan pada hari itu jumlah mereka bertambah, kira-kira tiga ribu jiwa” (ayat 41)

Luar biasa, jumlah orang yang menerima perkataan Petrus tentang Yesus yang angkanya mencapai 3000 jiwa. Wow, … itu bukan angka kecil dan sedikit. Kuasa Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja dan meyakinkan banyak orang dan itu di luar dugaan Petrus sendiri. Memberi diri dibaptis adalah simbol penerimaan sekaligus penyucian diri di dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus dan itu juga menjadi kekuatan kebersamaan orang-orang yang telah percaya.

Sulit dibayangkan sekarang ini, 3000 orang yang telah dibaptis itu tetap hidup bersatu dalam persekutuan yang rukun serta harmonis. Mengapa bisa? Ayat 42 menjelaskan bahwa pada kenyataannya, persekutuan orang yang banyak itu tetap bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Apa yang telah diterima dan diyakinkan para murid itulah yang dijaga dan dipelihara atau dirawat lewat mengajar umat (4:2) tentang Yesus Kristus tetapi juga hidup bersama dalam satu komunitas yang terbuka sehingga persekutuan orang yang baru percaya itu terjaga dan terpelihara dalam persekutuan (ayat 46). Disitulah kekuatan kesaksian jemaat perdana (mula-mula) yang menjadi cikal bakal lahir dan berkembang serta tumbuhnya Gereja.

Renungan firman Tuhan hari ini sangat baik tidak hanya untuk diikuti dan diteladani, tetapi juga dilakukan atau dipraktekkan. Menerima Yesus dan percaya kepada Yesus secara pribadi dan tinggal dalam komunitas persekutuan umat yang percaya selalu didorong untuk mau saling menerima, saling mendengar serta tolong-menolong dan juga sedia berbagi kasih yang tulus, jujur dan terbuka. Persekutuan dalam jemaat/Gereja harus menjadi pendorong umat untuk hadir dalam kehidupan sosial, tidak tertutup, mau bergaul dan menjadi teladan dalam perilaku/sikap yang baik, benar dan jujur serta tolong-menolong. Itulah juga makna panggilan dan pengutusan kita selaku Gereja. Menjadi garam dan terang dunia, itulah yang dikehendaki dan Tuhan memberkati.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *