KAMIS, 27 SEPTEMBER 2018 – Renungan Pagi

15 Kali dibaca, Diterbitkan: 27 September 2018        


GB.107 : 1 – Berdoa

HENDAKLAH ENGKAU SETIA SAMPAI MATI

Wahyu 2:8-11
….Janganlah takut terhadap apa yang harus engkau derita!….Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan (ay.10)

Di masa-masa sulit dan derita yang berat, teks ini menyapa jemaat Smirna untuk jangan takut. Di dalam sejarah gereja dikenal seorang tokoh uskup Smirna yaitu Polikarpus yang setia sampai mati, dibakar hidup-hidup karena imannya. Walau era Polikarpus tidak sama dengan era surat Wayhu di tulis, tetapi kisah Polikarpus menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi jemaat Smirna karena iman mereka di kemudian hari setelah surat Wahyu, ternyata tidak ringan. Oleh sebab itu sapaan teks ini untuk jangan takut dan setia sampai mati, adalah sapaan yang sulit dicerna dan di|aksanakan dalam kehidupan. Dengan perkataan lain antara realitas dan idealisme, antara kenyataan dan himbauan ada jurang yang sangat dalam.

Jemaat disapa untuk tidak takut dan setia sebab: Semua pengalaman mereka tidak Iepas dari pantauan Tuhan. Sabda Tuhan Aku tahu kesusahan dan kemiskinanmu. Tuhan tahu fitnah yang dilemparkan  kepada mereka (ay.9). Yesus yang awal dan yang akhir ada bersama-sama mereka. Pengalaman mereka bukan pengalaman perdana. Yesus pernah menjalani jalan itu. Yesus pernah mati dan hidup kembali (ay.8). Itulah penghiburan dan kekuatan bagi jemaat Smirna yang menjalani hari-hari yang berat itu.

Sebagai jemaat hari ini, ketika kita hidup aman dan tenteram, sejahtera tidak berkekurangan, tentu kita bisa menerima sapaan Tuhan untuk tidak takut dan setia sampai mati. Tetapi andai kata kita berada dalam kondisi jemaat Smirna barangkali kita sulit menerima sapaan Tuhan untuk tidak takut dan setia sampai mati. Tetapi meyakini dan menerima Firman Tuhan ketika kita tidak kurang apa-apa tidak luar biasa, atau tidak istimewa. Keyakinan baru benar-benar berarti ketika kita meyakini janji dan penyertaan Tuhan ketika sedang menjalani hari-hari sulit dan berat. Yakin dan percaya baru berarti ketika semua yang dijanjikan itu belum ada atau belum digenggam di dalam tangan.

GB.107: 3,6
Doa : (Mampukan kami Bapa untuk tetap percaya, walau bencana sekeliling kami mengatakan bahwa percaya di saat seperti itu adalah tidak mungkin)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *