Keluarga Tempat Pendidikan Hikmat (Pdt. Boydo R. Hutagalung), Warta Jemaat 12 Nov 2017

100 Kali dibaca, Diterbitkan: 18 November 2017        


Tak tanggung-tanggung, Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Ribut Rukun : 33 Renungan Ten-tang Keluarga”, memborong 4 Bab tentang pendidikan dalam keluarga. Ia merujuk pada teladan keluarga Israel di zaman PL sebelum Pembuangan ke Babel, yang berfungsi sebagai sekolah dan “gereja”. Orang tua saat itu merangkap sebagai guru dan “pendeta”. Saat itu keluarga dipandang sebagai wadah tunggal di mana seorang anak memperoleh segala pendidikan dasar untuk kehidupan sehari-hari dan untuk mengenal serta menjalankan kehendak Allah. Pendidikan dalam keluarga tidak berlangsung kaku seperti kelas formal. Sebali-knya, pendidikan terjalin dalam pelbagai kegiatan hidup sehari-hari, yaitu melalui pekerjaan, tradisi lisan, dan upacara agama.
Pertama, pendidikan melalui pekerjaan. Anak-anak Israel belajar menirukan pekerjaan orangtua mereka. Namun bukan kerja asal kerja. Segala pekerjaan sungguh dihayati umat Israel dalam kaitannya dengan ketaatan kepada Allah. Misal, sambil mencangkul atau memberi makan ternak, ayah akan memberitahu anak, “Nak, kita mengerjakan ini sebagai ketaatan kepada Allah untuk mengusa-hakan bumi dengan segala isinya yang adalah ciptaan Tuhan.” Sambil membuat roti atau memasak anak diberitahu oleh ibu, “Nak, ini kita kerjakan dalam rangka menaati perintah Allah agar manusia memelihara hidupnya dengan sehat.” Jadi pendidikan iman terjadi dengan pola belajar melalui contoh tindakan (learning by doing).
Kedua, pendidikan melalui tradisi lisan. Umat Israel sangat meyakini bahwa Allah menyata-kan diri dalam perbuatan-perbuatan-Nya di masa lampau maupun dalam pengalaman hidupnya sese-hari. Maka, orang-orang tua memiliki tugas penting untuk menyegarkan ingatan tentang sejarah bangsa mereka dipimpin Tuhan kepada generasi berikut, melalui bercerita. Ketaku-tan mereka adalah apabila generasi penerusnya tidak mengetahui sejarah iman bangsanya dan ke-mudian mereka jauh dari Tuhan.
Ketiga, pendidikan melalui upacara agama. Misalnya melalui perjamuan pengudusan hari Sabat yang diadakan di rumah masing-masing. Upacara ini seperti perjamuan kudus namun diadakan setiap Sabat dan anak-anak dilibatkan dalam perjamuan (suatu hal yang tidak diteruskan oleh umat Kristen dewasa ini). Upacara perjamuan itu melibatkan unsur-unsur : pelita, roti, dan air anggur. Sambil perjamuan berlangsung, anak-anak selalu dijelaskan makna dari setiap unsur dan tindakan ritual yang dilakukan. Begitu pula, orangtua selalu menjelaskan kepada anak-anak arti tiap upacara agama yang mereka lakukan. Penjelasan itu dimanfaatkan sebagai kesempatan menjelaskan per-buatan Allah di masa lampau.
Setelah zaman pembuangan ke Babel, baru muncul pendidikan di luar keluarga. Bagi orang de-wasa mereka mengalami pendidikan dan sekaligus ibadah di Sinagoge. Bagi anak-anak mereka belajar tingkat dasar di Beth Hassefer (artinya:Rumah Kitab) dan tingkat lanjut mereka belajar di Beth Ham-midrash (artinya:Rumah Belajar). Di sekolah-sekolah itu mereka dididik oleh Guru. Tetapi yang menarik, munculnya sinagoge dan sekolah tidak menjadikan orang tua lepas tangan dalam tugas pendidikan iman anak, di mana orang tua tetap mengajar melalui tiga kesempatan yang su-dah dibahas di atas.
Demikian pula pada zaman Gereja abad pertama, pendidikan agama juga terjadi di dalam ke-luarga. Pendidikan agama ini disebut katekese. Arti harafiah dari katekese adalah “meneriakkan di telinga secara terus-menerus”. Baru pada abad kedua katekese di luar keluarga berkembang, khusus-nya untuk orang-orang yang baru menjadi Kristen.
Jadi kita melihat betapa besarnya peran keluarga sebagai tempat pendidikan iman anak. Bagaimana dengan keluarga-keluarga pada masa kini? Apakah keluarga masa kini menjadi tem-pat terjadinya pendidikan iman? Agaknya banyak orang tua yang enggan untuk mengajar dan mengaitkan banyak perkara dengan iman kepada Tuhan. Atau mungkin takut dianggap “sok rohani/sok suci”. Akhirnya anak tidak terbiasa mempercakapkan iman dan bisa jadi tumbuh dalam suasana asing dan aneh terhadap hal-hal rohani. Padahal keluargalah tempat paling utama mendidik anak untuk menjadi insan berhikmat, yaitu dengan mendidik mereka untuk takut (baca:hormat & kasih) terhadap Tuhan. Mari kita mendidik anak-cucu kita mengenai iman di berbagai kesempatan yang ada (baca Mzm78:5-6 & Ul. 6:4-9). []Pdt.BRH

Categories: Khotbah & Renungan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *