MELINDUNGI GEREJA

1,418 Kali dibaca, Diterbitkan: 10 April 2015        


“Berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup dengan damai supaya kesatuan yang diciptakan oleh Roh Allah tetap terpelihara” Efesus 4:3 (BIS)
“Terutama sekali, jadikan kasih sebagai penuntun hidup saudara, sebab dengan demikian seluruh jemaat akan bersatu dalam keselarasan yang sempurna” Kolose 3:14 (FAYH)

Menjaga kesatuan gereja saudara merupakan tugas saudara. Kesatuan di dalam gereja begitu penting sehingga Perjanjian Baru memberikan lebih banyak perhatian untuk hal itu ketimbang untuk surga maupun neraka. Allah sangat menginginkan agar kita mengalami kesatuan dan keharmonisan satu sama lain.
Kesatuan adalah jiwa persekutuan. Hancurkan kesatuan, maka berarti saudara menarik jantung keluar dari Tubuh Kristus. Kesatuan merupakan hakikat, inti, dari kerinduan Allah agar kita mengalami kehidupan bersama di dalam Gereja-Nya. Contoh tertinggi kita untuk kesatuan adalah Tritunggal. Bapa, Anak dan Roh Kudus benar-benar menyatu sebagai satu. Allah sendiri adalah teladan tertinggi tentang kasih yang berkorban, sifat mementingkan orang lain dengan rendah hati, serta keharmonisan yang sempurna. Sebagaimana semua orang tua, Bapa surgawi kita senang melihat anak-anak-Nya hidup bersama satu sama lain. Dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum ditahan, Yesus berdoa sungguh-sungguh untuk kesatuan kita, Yohanes 17:20-23. Kesatuan kitalah yang paling utama Ia pikirkan selama jam-jam yang sangat menyakitkan itu. Ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ini.
Tidak ada apapun di bumi ini yang lebih penting bagi Allah selain Gereja-Nya. Dia membayar harga tertinggi untuk Gereja, dan Dia ingin agar Gereja terlindungi, khususnya dari kerusakan parah yang disebabkan oleh perpecahan, konflik dan ketidakharmonisan. Jika saudara adalah anggota keluarga Allah, menjadi tanggungjawab saudara untuk melindungi kesatuan di tempat saudara bersekutu. Saudara ditugaskan oleh Yesus Kristus untuk melakukan apapun yang mungkin untuk menjaga kesatuan, melindungi persekutuan, dan mendengungkan keharmonisan dalam keluarga gereja saudara dan diantara semua orang percaya. Alkitab berkata: “Berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup dengan damai supaya kesatuan yang diciptakan oleh Roh Allah tetap terpelihara” Efesus 4:3 (BIS) Bagaimana kita harus melakukannya? Alkitab memberi kita nasihat praktis.

1. Pusatkan perhatian pada persamaan-persamaan yang kita miliki, bukan perbedaan-perbedaan kita.
Paulus memberi tahu kita “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Roma 14:19 (AITB) Sebagai orang-orang percaya, kita memiliki satu Tuhan, satu tubuh, satu tujuan, satu Bapa, Satu Roh, satu harapan, satu iman, satu baptisan dan satu kasih. Kita memiliki keselamatan yang sama, kehidupan yang sama, dan masa depan yang sama, yaitu faktor-faktor yang jauh lebih penting dari pada perbedaan apapun yang bisa kita hitung. Inilah hal-hal yang harus kita beri perhatian utama, bukan perbedaan-perbedaan pribadi kita.
Kita harus ingat bahwa Allahlah yang memilih untuk memberi kita kepribadian, latar belakang, bangsa, dan preferensi yang berbeda, jadi kita seharusnya menghargai dan menikmati perbedaan-perbedaan tersebut, bukan hanya menerimanya. Allah menginginkan kesatuan, bukan keseragaman. Namun demi kesatuan, kita tidak pernah boleh membiarkan perbedaan memecah belah kita. Kita harus tetap mengutamakan apa yang paling penting, belajar untuk saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita, dan memenuhi kelima tujuan Allah bagi setiap kita dan Gereja-Nya. Konflik biasanya merupakan tanda bahwa pusat perhatian telah bergeser pada masalah-masalah yang kurang penting, hal-hal yang disebut Alkitab “Soal-soal itu menimbulkan pertengkaran.” Roma 14:1; 2 Timotius 2:23 (AITB). Bila kita memusatkan perhatian pada kepribadian, preferensi, penafsiran, gaya, atau metode, maka perpecahan selalu terjadi. Tetapi jika kita memusatkan perhatian pada soal saling mengasihi dan memenuhi tujuan-tujuan Allah, keharmonisan terjadi. Paulus memohon hal ini, “Biarlah ada keharmonisan yang sejati sehingga tidak aka nada perpecahan di dalam gereja. Aku memohon kepadamu untuk sehati bersatu dalam pikiran dan tujuan.” 1 Korintus 1:10 (NLT)

2. Bersikaplah realistis dengan harapan-harapan saudara
Begitu saudara menemukan apa yang Allah maksudkan dengan persekutuan yang sejati, mudah untuk menjadi patah semangat karena adanya jurang antara yang ideal dan yang nyata di dalam gereja saudara. Namun, kita harus bersungguh-sungguh mengasihi gereja sekalipun ada ketidaksempurnaannya. Merindukan yang ideal sementara mengkritik yang nyata adalah bukti dari ketidakdewasaan. Sebaliknya, tinggal dalam kenyataan tanpa memperjuangkan yang ideal merupakan sikap puas dengan diri sendiri. Kedewasaan ialah menyesuaikan diri dengan ketegangan itu.
Orang-orang percaya akan mengecewakan saudara, tetapi itu bukanlah alasan untuk berhenti bersekutu dengan mereka. Merekalah keluarga saudara, bahkan ketika mereka tidak mengecewakan saudara, saudara tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Sebaliknya Allah menyuruh kita, “Bersabarlah kamu satu sama lain, berilah kelonggaran bila ada kesalahan satu terhadap yang lain karena kasihmu.” Efesus 4:2 (NLT) Orang-orang menjadi kecewa terhadap gereja karena banyak alasan yang bisa dipahami. Daftarnya bisa agak panjang: konflik, luka hati, kemunafikan, kurang diperhatikan, pikiran sempit, legalisme, dan dosa-dosa lain. Sebaliknya dari pada terkejut, kita harus ingat bahwa gereja dibentuk dari orang-orang berdosa yang sesungguhnya, termasuk diri kita sendiri. Karena kita adalah orang-orang berdosa, kita saling melukai, kadang-kadang secara sengaja, dan kadang secara tidak sengaja. Tetapi bukannya meninggalkan gereja, kita perlu tinggal dan menyelesaikan persoalannya jika memungkinkan. Rekonsiliasi, dan bukan melarikan diri, yang merupakan jalan menuju karakter yang lebih kuat dan persekutuan yang lebih dalam.
Meninggalkan gereja saudara pada saat pertama kali ada kekecewaan atau ketidakpuasan adalah tanda ketidakdewasaan. Allah memiliki hal-hal yang ingin Dia ajarkan kepada saudara dan juga kepada orang lain. Selain itu tidak ada gereja yang sempurna dimana kita bisa melarikan diri. Setiap gereja memiliki sejumlah kelemahan dan masalahnya sendiri. Saudara akan segera kecewa lagi. Groucho Marx terkenal karena mengatakan bahwa dia tidak ingin menjadi anggota klub apapun yang mengizinkannya masuk. Jika sebuah gereja harus sempurna untuk memuaskan saudara, kesempurnaan tersebut akan melarang saudara untuk menjadi anggota, karena saudara tidak sempurna
Dietrich Bonhoffer, pendeta Jerman yang mati sebagai Martir karena melawan Nazi, menulis sebuah buku klasik tentang persekutuan, “Life Together”. Di dalam buku tersebut dia menunjukan bahwa kekecewaan terhadap gereja lokal kita adalah hal yang baik karena hal tersebut menghancurkan harapan kita yang salah tentang kesempurnaan. Semakin cepat kita melepaskan khayalan bahwa sebuah gereja harus sempurna agar bisa mengasihinya, semakin cepat kita berhenti berpura-pura dan mulai mengaku bahwa kita semua tidak sempurna dan membutuhkan kasih karunia. Inilah awal dari komunitas yang sejati. Setiap gereja bisa memasang tanda, “Tidak ada orang sempurna yang perlu melamar. Tempat ini hanyalah bagi orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah orang-orang berdosa, butuh kasih karunia, dan ingin bertumbuh.” Bonhoffer berkata, “Orang yang lebih menyukai impiannya tentang komunitas daripada komunitas Kristen itu sendiri menjadi perusak komunitas Kristen…..Jika kita tidak bersyukur setiap hari atas persekutuan Kristen di mana kita telah ditempatkan, meskipun disitu tidak ada pengalaman hebat, tidak ada kekayaan yang bisa ditemukan, selain banyak kelemahan, iman yang kecil, dan kesulitan; jika sebaliknya, kita tetap mengeluh bahwa segala sesuatu tidak berharga dan remeh, maka kita menghalangi Allah untuk membiarkan persekutuan kita bertumbuh.”

3. Pilihlah untuk membangkitkan semangat dan bukan mengkritik
Selalu lebih mudah untuk berdiri ditepi dan menembak orang-orang yang sedang melayani daripada terlibat dan memberikan sumbangsih. Allah memperingatkan kita berulang-ulang untuk tidak mengkritik, membanding-bandingkan atau menghakimi satu sama lain. Roma 14:13; Yakobus 4:11; Efesus 4:29; ; Matius 5:9; Yakobus 5:9. Bila saudara mengkritik apa yang sedang dikerjakan dengan iman dan keyakinan yang tulus oleh orang percaya lainnya, berarti saudara mencampuri urusan Allah: “Hak apa yang kamu miliki untuk mengkritik hamba-hamba orang lain? Hanya Tuhan mereka yang bisa memutuskan apakah mereka sedang melakukan sesuatu yang benar” Roma 14:4. Paulus menambahkan bahwa kita tidak boleh menghakimi atau meremehkan orang-orang percaya lain yang keyakinannya berbeda dengan diri kita: ”Jadi mengapa mengkritik tindakan-tindakan saudaramu, mengapa mencoba membuatnya kelihatan rendah? Kita semua akan diadili suatu hari, bukan dengan standar kita satu sama lain atau bahkan standar kita sendiri, tetapi dengan standar Kristus” Roma 14:10.

Pada saat kita menghakimi orang percaya lainnya, empat hal segera terjadi:
a. Kita kehilangan persekutuan dengan Allah
b. Kita mengungkapkan kesombongan dan rasa tidak aman kita sendiri
c. Kita menjadikan diri kita sendiri dihakimi oleh Allah
d. Kita mengganggu persekutuan gereja.

Suka mengkritik adalah sifat buruk yang merugikan. Alkitab menyebut iblis “pendakwa saudara-saudara kita.” Wahyu 12:10. Pekerjaan iblis adalah menyalahkan, mengeluh, dan mengkritik anggota-anggota keluarga Allah. Ketika kita melakukan hal-hal yang sama, kita sedang tertipu untuk melakukan pekerjaan iblis bagi dia. Ingat, orang-orang Kristen lain, yang tidak peduli berapa besar saudara tidak sepakat dengan mereka, bukanlah musuh yang sesungguhnya. Saat kita mulai membandingkan atau mengkritik orang-orang percaya lainnya adalah saat yang seharusnya digunakan untuk membangun kesatuan persekutuan kita. Alkitab mengatakan “Marilah kita sepakat untuk menggunakan segala tenaga kita bagi kehidupan yang rukun satu sama lain. Tolonglah orang lain dengan kata-kata yang membangun; jangan melemahkan mereka dengan mencari-cari kesalahan.” Roma 14:19

4. Menolak mendengarkan gossip
Gosip adalah menceritakan informasi dimana saudara bukan bagian dari masalahnya dan juga bukan bagian dari pemecahannya. Saudara mengetahui bahwa menyebarkan gossip itu salah, tetapi saudara sebaiknya juga tidak mendengarkannya, jika saudara ingin melindungi gereja saudara. Mendengarkan gosip adalah seperti menerima harta curian, dan itu membuat saudara bersalah sama seperti penjahatnya. Pada saat seseorang mulai bergosip kepada saudara, milikilah keberanian untuk berkata, “Tolong hentikan. Saya tidak perlu mengetahui hal ini. Sudahkan saudara berbicara langsung kepada orang tersebut?” orang-orang yang bergosip kepada saudara juga akan bergosip tentang saudara. Mereka tidak dapat dipercayai. Jika saudara mendengarkan gosip, Allah berkata bahwa saudara adalah seorang pembuat onar “Pembuat onar mendengarkan pembuat onar” “Inilah orang-orang yang memecah belah gereja, yang hanya memikirkan diri mereka sendiri.” Adalah menyedihkan bahwa dalam kawanan domba Allah, luka-luka terbesar biasanya datang dari domba lainnya, bukan serigala. Paulus memperingatkan tentang “orang-orang Kristen kanibal” yang “saling menelan” dan menghancurkan persekutuan. Alkitab mengatakan jenis pembuat onar ini hendaknya dihindari “Orang yang senang membicarakan orang lain, tidak dapat menyimpan rahasia; janganlah bergaul dengan orang yang terlalu banyak bicara” Cara tercepat untuk mengakhiri sebuah konflik di gereja atau di kelompok kecil adalah dengan penuh kasih menghadapi orang-orang yang sedang bergosip dan mendesak mereka untuk menghentikannya. Salomo menunjukkan, ”Api padam karena kehabisan bahan bakar, dan ketegangan lenyap apabila tidak ada lagi hasutan.”

5. Melaksanakan metode Allah bagi penyelesaian konflik
Disamping prinsip-prinsip yang disebutkan diatas, Yesus memberikan kepada Gereja proses tiga langkah yang sederhana: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatkannya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Selama konflik, lebih menarik rasanya untuk mengeluh pada pihak ketiga daripada dengan berani mengatakan kebenaran didalam kasih kepada orang yang terhadapnya saudara kecewa. Ini menjadikan masalah bertambah buruk. Justru, saudara seharusnya langsung pergi kepada orang yang terlibat. Konfrontasi pribadi selalu merupakan langkah pertama, dan saudara seharusnya melakukannya sesegera mungkin. Jika saudara tidak mampu untuk memecahkan masalah diantara kalian berdua, langkah berikutnya adalah mengajak satu atau dua orang saksi untuk membantu memperjelas masalah tersebut dan mendamaikan hubungan. Apa yang harus saudara kerjakan jika orang tersebut masih keras kepala? Yesus mengatakan untuk membawa soal itu kepada jemaat. Jika orang tersebut tetap menolak untuk mendengarkan, saudara perlu memperlakukan orang tersebut seperti orang yang belum percaya.

6. Dukunglah Presbiter dan para pemimpin saudara
Tidak ada pemimpin-pemimpin yang sempurna, tetapi Allah memberi mereka tanggung jawab dan otoritas untuk memelihara kesatuan gereja. Pada waktu konflik antar pribadi tugas itu merupakan pekerjaan yang tidak dihargai. Para presbiter sering kali memiliki tugas yang tidak menyenangkan, yaitu melayani sebagai penengah antara anggota-anggota yang terluka perasaan, berseteru, atau tidak dewasa. Mereka juga diberi tugas yang mustahil, yaitu: berusaha membuat semua orang bahagia. Alkitab tegas tentang bagaimana kita harus berhubungan dengan orang-orang yang melayani kita: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” Suatu hari, para presbiter akan berdiri di hadapan Allah, dan memberikan suatu pertanggungjawaban tentang seberapa baik mereka menjaga umat Tuhan. “Mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggungjawab atasnya.” Tetapi saudara bertanggungjawab juga. Saudara akan memberikan pertanggungjawaban kepada Allah tentang seberapa baik saudara mengikuti pemimpin saudara. Alkitab memberikan kepada para presbiter berbagai petunjuk yang sangat spesifik tentang bagaimana berurusan dengan orang-orang yang bersifat memecah-belah di dalam persekutuan. Mereka harus menghindari perdebatan, dengan lembut mengajar para penentang sambil mendoakan mereka agar berubah, memperingatkan orang-orang yang suka berdebat, memohon agar dijaga keharmonisan dan kesatuan, menegur orang-orang yang tidak menghormati pemimpin, dan menyingkirkan orang-orang yang bersifat memecahbelah gereja jika mereka mengabaikan dua peringatan. Kita melindungi persekutuan bila kita menghargai orang-orang yang melayani kita dengan memimpin. Para presbiter membutuhkan doa, dukungan, penghargaan, dan kasih kita. Kita diperintahkan, “Supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka.” Saudara ditantang untuk menerima tanggung jawab melindungi dan meningkatkan kesatuan gereja saudara. Berusahalah sekuat tenaga untuk itu, dan Allah akan senang. Hal tersebut tidak selalu mudah. Kadang-kadang saudara harus melakukan apa yang terbaik bagi Tubuh Kristus, dengan menunjukan preferensi pada orang lain. Inilah satu alasan mengapa Allah menempatkan kita di dalam sebuah keluarga gereja, yaitu untuk belajar tidak mementingkan diri sendiri. Dalam komunitas kita belajar mengatakan “Kita” bukan “saya” dan “milik kita” bukan “milik saya” Allah berfirman, ”Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”

Allah memberkati gereja-gereja yang bersatu. Di gereja Saddleback, setiap anggota menandatangani sebuah perjanjian yang mencakup sebuah janji untuk melindungi kesatuan persekutuan. Hasilnya, gereja tidak pernah mengalami konflik yang memecah persekutuan. Yang tidak kalah pentingnya, karena persekutuan tersebut bersatu dan penuh kasih, banyak orang ingin menjadi bagian darinya, Dalam kurun waktu 7 tahun, gereja Saddleback telah membaptis lebih dari 9.100 orang percaya baru. Ketika Allah memiliki sejumlah orang percaya, bayi yang hendak Dia lahirkan, Dia mencari gereja terhangat yang bisa Dia temukan untuk berfungsi bagaikan incubator.
Apakah yang sedang saudara kerjakan secara pribadi untuk membuat keluarga gereja saudara lebih hangat dan penuh kasih? Ada banyak orang dalam komunitas saudara yang sedang mencari kasih dan tempat untuk menjadi anggota. Kenyataannya ialah, semua orang butuh dan ingin dikasihi, dan ketika orang-orang menemukan sebuah gereja dimana para anggotanya dengan tulus saling mengasihi dan saling memperhatian, saudara mungkin harus mengunci pintu untuk mencegah mereka menyerbu.

“MARILAH KITA MENGEJAR HAL-HAL YANG BERGUNA UNTUK KEHARMONISAN DAN PERTUMBUHAN PERSEKUTUAN KITA BERSAMA” ROMA 14:19 (Ph)

Untuk kalangan sendiri – sumber: The Purpose Driven Life; Rick Warren
Categories: Artikel, Kesaksian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *