MINGGU, 12 MEI 2019 – Renungan Pagi

83 Kali dibaca, Diterbitkan: 12 May 2019        


 

HARI MINGGU III SESUDAH PASKAH

GB.231:1,3 – Berdoa

UANG: ALAT PENGABDI ALLAH

Matius 6: 19 – 24
“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (ay.24)

Harta benda merupakan realitas sentral dalam relasinya dengan kesejahteraan. Prestise, reputasi, dan popularitas juga ada kaitannya dengan harta benda. Realitas publik pun menawarkan beragam kesempatan untuk mengidolakan harta benda lewat “alat” bernama “uang” yang kemudian mewujud dalam rupa-rupa barang material. Kultur mengidolakan harta benda biasanya dengan menggalang aset keuangan disertai slogan “Demi Kesejahteraan”. Makna dibalik slogan itu sejatinya merupakan frase ‘harga diri’ disertai rasa aman dengan zona yang menjamin kenyamanan dan keamanan penuh jauh dari risiko yang mengancam.

“Lucerna corporis tui est oculus tuus” ‘Mata adalah lampu untuk badan‘ (ay.22-23 BIMK-LAI), merupakan metafor karakter seseorang dalam menyikapi “alat” bernama “uang”. Hans-Peter Zimmermann (penulis dari Swiss) mengatakan, “Uang hanya merusak orang-orang yang tidak punya karakter.” Uang tidak pernah menjadi tujuan tersendiri. Kita sebagai pelakulah yang harus bisa menyikapi harta benda – harta duniawi sebagai barang fana yang mudah hancur. Pribadi yang berkarakter tidak menghabiskan perhatian dan menyandu pada barang material yang rapuh dan tidak bernilai kekal. Yesus secara gamblang menyatakan kita tidak dapat melayani/ bekerja untuk dua majikan, Allah dan harta benda juga. Kita harus membuat pilihan kepada siapakah sejatinya kita meletakkan rasa aman. Kepada “Allah Sumber Kesejahteraan Sejati” atau “uang sebagai alat” yang seharusnya menjadi alat pengabdi Allah?

Henry J.M. Nouwen dalam bukunya “A Spirituality of Fundraising” menulis, “Kita harus membuat pilihan apakah menjadi milik dunia ini atau menjadi milik Allah. Kepercayaan dasar kita harus terletak pada Allah. Selama rasa aman kita terletak pada uang, kita tidak bisa menjadi anggota sejati Kerajaan Allah.” Mamon (Aram : Mamona) diartikan kekayaan yang didapat secara tidak bermoral dan tidak jujur. “Mamon” berasal dari akar “mn”, “percaya”, akar yang sama dari kata “amin”. Hanya kepada Allah kita boleh menyatakan “AMIN”. “Siapa mengandalkan harta akan jatuh seperti daun tua, orang yang saleh akan berkembang seperti tunas muda”- Amsal 11 : 28 (BIMK-LAI).

KJ.446 : 1,4
Doa : (Ya Allah, teguhkan iman kami, agar di tengah kuatnya pengaruh Mamon di sekitar kami, kami tetap setia mengabdi kepada-Mu)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *