MINGGU, 16 SEPTEMBER 2018 – Renungan Pagi

10 Kali dibaca, Diterbitkan: 16 September 2018        


 

GB.229:1 – Berdoa

SOMBONG TERHADAP ALLAH BERAKHIR BENCANA

Kejadian 11:1-9
“Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (ay.4)

Sebuah pepatah Yahudi, “Kesombongan adalah topeng dari kesalahan.” Pepatah ini ada benarnya! Tidak sedikit orang berlaku sombong untuk menutupi keburukan, pelanggaran, bahkan dosa pribadinya. Peristiwa di tanah Sinear – Babel di masa purbakala menunjukkan hal tersebut. Pertama, sikap manusia yang tidak mengindahkan perintah Allah agar berpencar dan memenuhi seluruh muka bumi serta memeliharanya pasca peristiwa air bah merupakan salah satu bentuk kesombongan terhadap Allah. Sikap tersebut juga menandakan keinginan manusia untuk hidup dalam keamanan dan kenyamanan, hingga lalai meyakini kuasa dan pemeliharaan Allah atas kehidupan mereka di mana pun mereka menetap dan bekerja di dunia. Kedua, sikap manusia yang mencari nama (ay.4) hingga menghalalkan berbagai cara telah menyebabkan kesia-siaan belaka dalam hidup dan karya mereka. Mereka lupa bahwa sebuah menara yang kuat tidak cukup dibangun hanya dengan tanah liat, melainkan terutama dengan bebatuan! Demikian pula ‘menara‘ kehidupan kita hanya kuat jika didasarkan pada sikap taat dan kasih kepada Allah, bukan karena kuasa, jabatan, kekayaan, kegagahan, serta hikmat manusiawi yang terbatas adanya. Ketiga, Allah tidak menghendaki manusia bersatu untuk menyombongkan diri di hadapan-Nya. Allah akan melakukan segala tindakan yang dipandang-Nya perlu untuk menggagalkan semua niat dan pekerjaan jahat manusia, supaya mereka kembali melaksanakan tugasnya sebagai ciptaan-Nya sekaligus rekan sekerja Allah di dunia. Keempat, Allah selalu memiliki cara yang tepat untuk mengakhiri kesombongan manusia. Di masa lalu, Ia telah menciptakan berbagai bahasa manusia supaya mereka tidak saling bersepakat untuk melakukan yang jahat. Namun, melalui keragaman tersebut, Allah juga mendidik manusia agar belajar rendah hati dan saling memahami seorang terhadap yang lain.

Belajar dari peristiwa tersebut, mari kita hentikan segala bentuk kesombongan sebab kesombongan hanya mendatangkan hukuman Allah. Sebaliknya, taatlah kepada Allah dan muliakanlah Dia melalui segenap karya dan pelayanan kita. Hanya dengan demikian kita dapat menjadi berkat di mana pun kita berada dan bekerja.

KJ.411 : 1, 2
Doa : (Ya Tuhan, cegahlah hati dan lidahku dari segala kesombongan, serta mampukanlah aku untuk melayani-Mu dengan taat)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *