Minggu, 29 April 2018 – Renungan Malam

51 Kali dibaca, Diterbitkan: 29 April 2018        


Minggu IV Sesudah Paskah

Minggu, 29 April 2018
Renungan Malam

KENESTAPAAN ITU MEMERLUKAN BAHASA KASIH, BUKAN BAHASA KEKUASAAN

Rut 2:8-17
“Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku!…” (ayat 8)

Anthony Rees (2015) memandang kisah Rut sejajar dengan kisah para imigran yang keluar dari kenestapaan (negara asal mereka) menuju ke hidup yang lebih baik, yaitu Australia. Kesulitan yang dihadapi oleh Naomi adalah suatu kenestapaan karena suami dan kedua anaknya wafat. Naomi ingin keluar dari lubang nestapa itu menuju ke hidup yang lebih baik. Perbedaan di antara kisah para imigran dengan kisah imigran ala Naomi adalah ia kembali ke tanah asal, Behlehem, sementara kisah para imigran adalah pergi ke tanah orang lain.

Menurut Rees (2015), dalam kenestapaan, bahasa penderitaan, dan bahasa kekuasaan senantiasa muncul. Keluhan, wajah nanar, tangisan dan terdampar adalah wujud dari bahasa penderitaan. Di sisi lain, bahasa kekuasaan muncul dalam bentuk larangan, interogasi dan hukuman. Di tengah bahasa kekuasaan dan penderitaan itu, perikop ini mengajak masing-masing kita untuk melihat bahwa kenestapaan memerlukan bahasa cinta. Kesusahan memerlukan bahasa kasih.

Bahasa kasih ditunjukkan oleh Rut atas Naomi dengan berinisiatif bekerja. Bahasa kasih memiliki implikasi dan konsekuensi. Tidak ada bahasa kasih yang hanya terdiri dari sekumpulan kata-kata indah nan kosong. Bahasa kasih menawarkan masa depan. Bahasa kasih menghadirkan komitmen. Bahasa kasih meminta tindakan nyata. Hal serupa ditunjukkan oleh Boas. Ia menggunakan bahasa kasih dalam bentuk perhatian kepada Rut (ay. 8), ucapan berkat atas Rut (ay. 12), memberi makan dalam iklim kesetaraan (ay. 14), dan melindungi (ay. 16).

Kenestapaan tidak terpisahkan dari hidup. Perikop ini mengajak masing-masing kita untuk peka terhadap nestapa atau derita yang sedang digumuli oleh orang lain. Tahu apa yang diperlukan. Tergerak untuk bela-rasa. Kepekaan tersebut membuat kita bisa berinisiatif untuk menggunakan bahasa kasih yang menawarkan masa depan, perhatian, ucapan berkat, memberi makan dalam iklim no-hirarki, dan melindungi orang yang sedang dirundung nestapa.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *