MINGGU, 5 AGUSTUS 2018 – Renungan Pagi

14 Kali dibaca, Diterbitkan: 5 August 2018        


 

MINGGU, 5 AGUSTUS 2018
Renungan Pagi

GB.191 : 1,2 – Berdoa

IRI HATI

Kejadian 4: 1 – 9
Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel ….. (ay.8)

Salah satu kiat sukses Charles E. Watson, “Mendapatkan hasil yang lebih baik dengan lebih banyak memberikan diri Anda”. Definisi seperti ini pada prakteknya tidaklah mudah dan sederhana. Bagi sebagian orang memberikan diri tidaklah cuma-cuma, harus mendapatkan imbalan, sebab diri manusia dipahami sebagai sumberdaya bernilai/berharga. Tekanan kuat pada keberhasilan memperoleh apa yang diinginkan dan mendapatkan keuntungan menyebabkan banyak orang percaya bahwa cara terbaik memenuhi keinginan mereka dan memperoleh kepuasan adalah bersifat agresif, mendapatkan apa saja yang diinginkan dan menyingkirkan siapa saja yang menjadi penghalang.

Gambaran unik manusia ini bukan sesuatu yang dapat dipandang dan dipelajari secara psikologis belaka, tetapi itulah nature manusia yang sudah ada sejak Allah menciptakannya. Manusia ingin menjadi yang utama dan pertama dari lainnya. Memilukan ketika terjadi pembunuhan terhadap saudara dalam kisah Kain dan Habel ini; hanya karena hasil persembahan kepada TUHAN, Kain mengakhiri hidup Habel, tragis! lni menarik, sebab kenyataan dewasa ini terjadi konflik dan pembunuhan terhadap saudara hanya karena memperebutkan harta warisan (kekayaan dan kehormatan). Inilah bentuk dari kemanusiaan sejati yang lemah dan dikuasai oleh nafsu keserakahan sebagai buah dosa. Oleh sebab itu percakapan penciptaan manusia tidaklah berhenti pada Allah memberi nafas hidup kepada manusia saat menciptakannya, tetapi Ia melengkapi manusia dengan “kehendak” dan “akal-budi”, sehingga menjadikannya makhluk “berkehendak bebas,” bukan robot. Dalam kebebasan itulah, manusia memilih jalan hidup yang dipikirkannya, tetapi ia pun harus mengakui pengadilan Allah, Penciptanya.

Iri hati disebabkan oleh ketidaksenangan melihat kemajuan dan keberhasilan orang lain dapat berakibat ganda : buruk bagi diri sendiri, dan bagi orang lain, karena selalu menilai negatif dan
menyimpan kebencian. Orang-orang egois yang mengagungkan diri sendiri mudah terjebak pada iri hati yang berdampak konflik dan permusuhan, meregangkan hubungan dalam tali persahabatan, bahkan dapat mencelakakan. Karena itu: Jangan menilai diri terlalu tinggi. Cobalah merendah sedikit.

GB.354 : 1,2
Doa : (Ya Bapa, curahkan Roh Kudus-Mu bagi kami)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *