Minggu, 8 April 2018 – Renungan Pagi

125 Kali dibaca, Diterbitkan: 8 April 2018        


 

Minggu I Sesudah Paskah

Minggu, 8 April 2018
Renungan Pagi

KASIH YANG MEMPERSATUKAN

1 Yohanes 4 : 7 – 16
Inilah kasih itu : Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya….. (ay.10)

Yesus menghendaki agar para murid-Nya selalu tampil beda. Bukan pakaiannya, tetapi hidupnya. Mereka ada di dunia tetapi bukan dari dunia (Yoh. 17:14-16). Apa yang membedakan mereka? Gaya hidup! Bacaan kita menegaskan agar gaya hidup para murid adalah gaya hidup kasih. Tetapi apakah gaya hidup kasih itu? Arahkanlah hati ke salib. Di sana kita saksikan pengur-banan yang sadar dan kerelaan menanggung dosa manusia. Kita saksikan sikap yang tegas menerima penderitaan. Ia mem-beri Diri untuk mati supaya manusia beroleh kehidupan. Di salib juga kita mendapat kepastian bahwa Allah adalah Kasih. Semua kasih bersumber di sana. Termasuk Kasih Yesus. Kasih yang tidak mementingkan diri sendiri. Yohanes meminta warga je-maatnya untuk memiliki kasih yang demikian. Kata Yunaninya “agape”, suatu istilah tua yang jarang dipergunakan. Istilah ini dipergunakan Alkitab untuk melukiskan penyerahan diri tanpa bersyarat atau pengurbanan diri untuk orang lain. Karena itu dipergunakan untuk Allah yang adalah Kasih. Orang Yunani lebih suka menggunakan kata “eros” sebagai keinginan yang kuat untuk mencapai Allah. Bagi mereka Allah tidak memberikan keselamatan. Allah tidak mendatangi manusia, apalagi mati! Manusialah yang mendatangi Allah dengan eros. Masalah mereka bukanlah dosa tetapi adalah roh yang terjebak di dalam tubuh atau daging. “Bebaskan roh dari tubuhnya supaya mencapai kehidupan ilahi!” Untuk itu eros memiliki peranan penting. Warga jemaat penerima surat ini diingatkan bahwa Kasih yang dikenal dengan agape itu ada di dalam Diri Allah. Beriman kepada Allah berarti memiliki kasih itu. Sebagai buktinya maka kasih itu harus diterapkan terhadap keluarga dan sesama. Sebab bagaimana mungkin seseorang mengasihi Allah yang tidak dilihatnya, sedangkan sesamanya yang setiap hari terlibat di dalam hidupnya sendiri, tidak dikasihinya? Jikalau Allah saja begitu mengasihi kita, mengapa kita hidup di dalam permusuhan dengan saudara kita sendiri?


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *