MlNGGU, 18 AGUSTUS 2019 – Renungan Malam

21 Kali dibaca, Diterbitkan: 18 August 2019        


 

HARI MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA

KJ.282 : 1,2 – Berdoa

FIGUR ANAK-ANAK ALLAH

Galatia 4: 1 – 6
“Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (ay.5)

Galatia 4:1-6 tidak membahas tentang kedewasaan rohani, apalagi soal baptisan. Konteks bacaannya jelas mengenai hamba yang diadopsi menjadi anak dan yang diberi hak istimewa yaitu menjadi waris Kerajaan Surga. Alasannya karena Kristus telah menebus kita dari cara hidup yang lama. Ia memindahkan hidup kita daricara hidup yang sia-sia, yaitu dengan menaati hukum Taurat. Kita dituntun kepada cara hidup yang baru dan yang benar, yaitu hidup sebagai anak-anak Allah. Salah satu aspek dari dimensi baru itu adalah kesatuan dan kesamaan.Tidak ada lagi perbedaan, semuanya menjadi satu dalam Kristus.

Hidup sebagai anak-anak Allah atau ahli waris dari janji-Nya harus melewati suatu proses pendewasaan, yang bagi Paulus disebut dengan proses akil balig. Tanpa proses pendewasaan, kita masih mudah dikuasai oleh kuasa-kuasa lain dan bahkan mudah ditaklukkan oleh roh-roh dunia. Pendewasaan terjadi dalam Yesus Kristus, bukan dalam hukum Taurat. Taurat tidak menjamin kita menjadi ahli waris yang sesungguhnya, tetapi dalam Yesus kita menerima jaminan itu.

Salah satu proses pendewasaan kita sebagai “anak Allah” adalah kita menjadi figur anak-anak yang beribadah. Mengapa? Dengan beribadah kita menempa diri dalam proses pendewasaan itu. Ibadah adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah. Pada saat yang sama Allah mendekatkan diri kepada kita. Dengan demikian ibadah adalah mengintimkan hubungan manusia dengan Allah, sehingga kita bertumbuh dan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Allah Bapa kita. Keintiman itu selanjutnya menjadi titlk tolak anak-anak Allah untuk aktif mewujudkan tindakan damai sejahtera di dalam dunia dan kepada sesama. Sebab hubungan Allah sebagai Bapa dan kita sebagai anak-anak-Nya, ditunjukkan melalui tindakan yang mana anak mengerti apa yang menjadi kehendak Bapanya. Dengan demikian peribadahan yang kita selenggarakan atau ikuti tidak hanya sekadar ritual tetapi mampu mengubah perilaku kita sesuai kehendak Allah.

KJ.282 : 3,4
Doa : (Ya Tuhan biasakanlah kami anak-anak-Mu untuk menyukai persekutuan dengan-Mu dan yang mengaslhi dunia ini serta sesama kami)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *