RABU, 24 JULI 2019 – Renungan Pagi

28 Kali dibaca, Diterbitkan: 24 July 2019        


 

MINGGU V SESUDAH PENTAKOSTA

PKJ. 201 : 1 – Berdoa

GERAKAN PENYIKSAAN DAN EKSEKUSI MATI

Kisah Para Rasul14: 1 – 7
“Maka mulailah… mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan
melempari kedua rasul itu dengan batu.” (ay.4)

Gerakan Misi yang kita baca ini merupakan contoh kegigihan para Rasul menyampaikan Injil kepada semua orang. Mula-mula semua berjalan dengan damai. Orang Yahudi menghasut perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar dikota Ikonium. Tujuan mereka agar terbit kebencian masyarakat terhadap Paulus dan Barnabas. Itulah latar belakang orang Yahudi yang menimbulkan bahaya terhadap keselamatan para rasul. Orang Kristen Yahudi menganggap bahwa orang bukan Yahudi hanya dapat diselamatkan apabila mereka menjalankan hukum taurat dan mengambil bagian dalam pelbagai ketetapan dan peraturannya. Meskipun terdapat pemisahan kelompok Kristiani dan Yahudi.

Tetapi para rasul dan penyaksi Kristus, para guru iman Kristiani tetap mengajar dengan berani karena mereka percaya kepada Tuhan Yesus. Dikaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda dan mujizat. Akhirnya muncullah gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul dengan batu. Hal ini merupakan aksi yudisial yang masih sering berlaku sampai sekarang dengan ragamnya.

Legenda tentang Paulus dan Barnabas, juga disertai oleh ketetapan hati seorang perempuan kaya terkemuka, Thelka, yang kemudian menjadi Santa Thelka dalam Iman Orthodox. Thelka meminta untuk dibaptis. Hal ini membuat keduanya di bawa kepada penguasa Yahudi untuk diadili atas tuduhan yang diberikan oleh penentang mereka. Thelka dihukum bakar, Paulus dihukum kutuk karena dianggap menyebabkan banyak kesusahan di kota itu, demikian kata mereka. Thelka dibakar tetapi ia membuat tanda Salib dan tiba-tiba hujan yang ajaib menyelamatkannya. Ia mengikut Paulus dengan setia. Ia dihadapkan pada binatang buas. Binatang buas singa berubah menjadi seperti kucing manja kepada Thelka.

Pola penolakan terhadap pemberitaan Injil Kristus sangat membahayakan bahkan saat ini kebanyakan terulang kembali dengan kekerasannya. Perilaku damai, bersedia mendengar tanpa harus menghakimi apalagi melakukan tindak kekerasan adalah tantangan ber-Pancasila di NKRI sekaligus tantangan bagi kita sebagai orang percaya. Mari wujudkan perilaku damai untuk hadirnya kesejahteraan.

KJ.260
Doa : (Hentikan ya Tuhan, bahwa agama menjadi agen kekerasan dan pembunuhan)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *