Rabu, 25 April 2018 – Renungan Malam

20 Kali dibaca, Diterbitkan: 25 April 2018        


 

Minggu III Sesudah Paskah

Rabu, 25 April 2018
Renungan Malam

MENGASIHI DENGAN PERBUATAN

1 Yohanes 3 : 16 – 18
“…marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (ay.18)

Banyak orang telah merumuskan kasih dalam bentuk sanjak yang indah, syair yang indah. Ada pula yang menggubahnya men-jadi nyanyian-nyanyian yang syandu. Semuanya yang indah-indah, syandu, menjadi tidak berguna bila tidak diwujudkan dalam tin-dakan yang nyata. Karena kasih bukan suatu “teori” tentang per-buatan baik, melainkan suatu tindakan nyata sebagai perwujudan dari kasih Kristus. (ay.18). Rasul Paulus pun mengatakan biia kita memiliki apa saja, tapi tanpa kasih yang kongkrit sia-sia ada-nya. Tindakan yang demikian hanya seperti gong yang berkuman-dang dan canang yang gemerincing (1 Kor.13 :1). Orang yang hidup dalam kasih suka menolong orang lain, khususnya orang-orang yang berada dalam kesulitan(ayat 17). Didalam diri orang ini ada kuasa (power) yang selalu aktif dan dinamis yang bekerja mendorong orang tersebut untuk berbuat, bertindak keluar untuk menyatakan kasih secara nyata kepada orang lain. Mengapa? Karena orang yang hidup dalam kasih telah berpindah dari maut kepada hidup. Hidup itu adalah hidup yang dari Kristus yang telah memberi hidupNya. Karena itu kehidupan Kristus tidak hanya menjadi teladan untuk berbuat kasih, tetapi juga menghadirkan kuasa kasih yang aktif yang selalu tertuju kepada sasarannya secara kongkrit. Orang-orang yang demikian ini tidak egois, tidak pelit, tidak menutup pintu hati untuk orang berkekurangan, tetapi murah hati, suka memberi tumpangan. Kalau ia menutup pintu terhadap se-sama, bagaimana ia mengasihi Allah. Ini bukan perbuatan baik yang bersifat sosial. Orang yang hidup dalam kasih suka menolong tanpa pamrih. Kasih bukan hanya di bibir (di lidah). Karena lidah memang tak bertulang. Janji tinggal janji, lain dibibir lain dihati tapi dengan perbuatan nyata dan dalam kebenaran. Manusia pada dasarnya sulit untuk mengasihi. Manusia hanya memiliki kasih dan mampu mengasihi bila hidupnya selalu terhu-bung dengan Sumber. Maka hidup didalam kasih dan berbuat kasih adalah suatu perjuangan. Dengan mempersembahkan hidup kita pada kasih Kristus kita dimampukan-Nya.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *