Rabu , 28 Maret 2018 – Renungan Pagi

74 Kali dibaca, Diterbitkan: 28 March 2018        


 

Minggu I Pra Paskah

Rabu , 28 Maret 2018
Renungan Pagi

TULUS DAN MENJADI TELADAN

Markus 14:1-2
“Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat” (ayat 1)

Beberapa waktu lalu, kita sering menyaksikan demonstrasi dari sekelompok orang memakai jubah lengkap dengan aksesorisnya. Mereka jelas mencirikan sebagai orang-orang saleh. Yang mengherankan dan tak terduga adalah, seruan atau ujaran-ujaran mereka yang menghina, dan menyebarkan kebencian terhadap pihak tertentu. Mereka memprovokasi atau menyerukan untuk melakukan tindak kekerasan. Sungguh memprihatinkan. Padahal selaku umat terlebih sebagai pemimpin agama, sudah semestinya memuliakan Tuhan lewat kata dan perbuatan yang baik, serta menjadi teladan.

Tidak jauh beda dengan para Imam yang dikenal sebagai pemimpin agama dan ahli-ahli Taurat yang menguasai isi kitab Taurat, tapi bermaksud untuk membunuh Yesus. Lebih tragis lagi, mereka berusaha memberikan kesan bahwa kematian itu terjadi dalam sebuah kecelakaan, atau dalam sebuah peristiwa yang tidak direncanakan sebelumnya. Hal itu karena hati mereka yang penuh kebencian. Kritikan dan popularitas Yesus telah membuat para imam kehilangan akal sehat. Mereka merancang upaya pembunuhan Yesus dengan cara licik sebelum perayaan Hari Raya Paskan dan Hari Raya Roti tak Beragi. Mengapa demikian? Sebab kalau dilakukan pada perayaan-perayaan itu, mereka takut kepada reaksi masyarakat. Jelas dapat dikatakan bahwa ibadah-ibadah mereka penuh dengan kepalsuan oleh karena kelicikannya.

Bacaan ini mengingatkan kita bahwa dalam pelayanan, yang katanya berjalan bersama, adakalanya timbul persaingan yang tidak sehat dan keinginan untuk menjadi yang terkemuka di antara sesama pelayan, sehingga muncul iri hati dan dengki satu dengan yang lain. Sungguh hal ini demikian tidak pantas dan jadi batu sandungan bagi umat lainnya. Di sinilah kita memahami bagaimana sikap hati yang pantas dan sebaiknya dalam kapasitas sebagai pelayan, khususnya yang dipanggil untuk mengabdi dalam pekerjaan mulia dan terhormat, seperti halnya para pejabat gereja. Mereka sudah sepatutnya memiliki ketulusan hati dan menjadi teladan bagi umat.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *