RABU, 5 SEPTEMBER 2018 – Renungan Pagi

85 Kali dibaca, Diterbitkan: 5 September 2018        


 

KJ 253:1 – Berdoa

PEKERJAAN HARAM TIDAK DIBERKATI TUHAN

Habakuk 2:9-11
Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal….(ay.9)

Orientasi hidup orang pada umumnya adalah uang. Semua hal diukur dengan uang. Berapa banyak uang yang akan saya dapatkan melalui “pekerjaan” itu. Kalau tidak ada uangnya, tidak usah dikerjakan; apalagi kalau upahmu besar di sorga, janganlah. Karena orientasi hidup kebanyakan orang adalah uang, maka berbagai cara dilakukan untuk mendapatkannya, dengan cara halal maupun haram dan tidak peduli apakah orang lain menjadi korbannya, yang penting ia mendapatkan keuntungan.

Situasi ini juga yang menjadi keprihatinan Habakuk atas bangsanya, juga atas bangsa Babel yang menindas mereka. Orang-orang yang merasa kuat dan punya kuasa berusaha mengeruk kekayaan, mendapatkan keuntungan dari orang-orang lemah. Mereka membangun hidupnya, membangun rumahnya, mengenyangkan perutnya, mensejahterakan hidupnya dari hasil kerja yang tidak halal, alias haram. Mereka tidak sadar bahwa hasil pekerjaan yang haram tidak akan membawa berkat bagi diri dan keluarganya,

Menikmati hasil pekerjaan haram akan membawa bencana bagi diri dan keluarga mereka. Celakalah orang yang mengambil laba yang tidak halal untuk keperluan rumahnya. Mereka tidak sadar bahwa dengan mengambll keuntungan dari pekerjaan yang haram, mereka justru sedang merancangkan cela dan malapetaka bagi seisi rumahnya. Sebab batu berseru-seru dari tembok dan balok menjawabnya dari kerangka rumah.

Kalau kita berimajinasi: rumah itu akan berbicara: “Kami tidak sudi dibangun di atas penderitaan orang lain; Kami tidak sudi menikmati kemegahan kami ini, sebab kami dibangun bukan dari hasil pekerjaan yang halal”.

Ada cerita seorang teman yang bekerja di salah satu istansi pemerintah. Ia memiliki kedudukan yang lumayan penting. Ia seorang yang berusaha hidup jujur di instansi dia bekerja ada aturan yang tidak tertulis bahwa setiap orang mulai dari bawah sampai ke atas harus menyetorkan sekian persen keuntungan yang di dapat dari jalur tidak benar kepada atasannya. Setiap ia mendapatkan keuntungan dari jalur yang tidak benar itu, ia tidak membawanya ke rumah untuk dinikmati keluarganya, tetapi ia membagi-bagikannya sampai habis kepada teman-temannya atau kepada orang lain yang tidak dikenalnya. Mengapa? Karena ia tahu uang hasil pekerjaan yang tidak benar tidak akan membawa berkat bagi keluarganya. Ia hanya memberikan kepada keluarganya uang dari hasil pekerjaan halal, dari hasil kerja kerasnya yang benar.

KJ.253 : 3
Doa : (Ya Tuhan, kami mau bekerja dengan jujur, rajin dan benar agar hasil dari pekerjaan itu dapat menjadi berkat yang dinikmati keluarga kami)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *