Rabu, 7 Februari 2018 – Renungan Malam

59 Kali dibaca, Diterbitkan: 7 February 2018        


 

Minggu V Sesudah Epifania

Rabu, 7 Februari 2018
Renungan Malam

NAAMAN SEMBUH

2 Raja-Raja 5:8-14
“Maka… ia membenamkan dirinya 7 kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu…. Lalu ia menjadi tahir” (ayat 14)

Setelah Elisa tahu raja Israel berkabung membaca surat pengantar dari raja Aram, maka ia mengirim pesan kepada raja agar mengizinkan Naaman datang kepadanya supaya ia tahu ada seorang nabi ddi Israel. Datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya (atau tanda kebesarannya selaku panglima dari raja Aram) dan berhentilah dia di depan pintu rumah Elisa.

Apa yang dilakukan oleh Elisa terhadap Naaman? Elisa menyambut Naaman dengan tidak menjumpainya, tetapi ia hanya mengutus seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir” (ayat 10). Bagaimanakah reaksi Naaman? Lalu ia pergi dengan gusar sambil berkomentar bahwa dia merasa diremehkan dan direndahkan oleh Elisa. Maka berpalinglah dia dan pergi dengan panas hati. Setelah dinasihati oleh para bawahannya, Naaman jadi juga mandi di sungai Yordan. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

Naaman gusar (kesal, tersinggung) dan panas hati (marah) atas sikap dan perkataan Elisa. Ia berharap paling tidak ia dijumpai, menjamah tubuhnya yang sakit semacam ritus doa penyembuhan, dan hal yang harus dilakukannya hanya sederhana yaitu hanya mandi tujuh kali di sungai Yordan yang kotor itu. Nabi Elisa tidak melakukan hal-hal yang luar biasa, hebat dan spektakuler dalam penyembuhan Naaman. Dan hal yang ia harus lakukan oleh Naaman untuk menjadi sembuh juga adalah sesuatu yang sederhana dan sangat mudah, yaitu mandi di sungai Yordan. Intinya ialah: Elisa mengajar, mendidik, dan menuntun Naaman yang tampil dengan segala kebesarannya itu agar merendahkan diri, dan juga agar Naaman menghargai dan mensyukuri hal-hal yang sederhana dan biasa-biasa saja.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *