Sabtu, 27 Januari 2018 – Renungan Malam

147 Kali dibaca, Diterbitkan: 23 January 2018        


 

Minggu III Sesudah Epifania

Sabtu, 27 Januari 2018
Renungan Malam

PENGHIBURAN YANG HAMPA

Ayub 21:27-34
“Alangkah hampanya penghiburanmu bagiku! Semua jawabanmu hanyalah tipu daya belaka!” (ayat 34)

Penghiburan sangat dibutuhkan ketika kita menghadapi pergumulan yang berat. Dalam penghiburannya terhadap Ayub, Zofar salah satu sahabat Ayub, berusaha meyakinkan Ayub, bahwa kemujuran orang fasik hanyalah sementara saja, karena Allah akan menghukum mereka di dunia. Ayub menolak pandangan Zofar, sebab pandangannya bertentangan dengan realita tiap hari. Orang fasik justru memiliki banyak sekali kemujuran. Bahkan kemujuran itu berlangsung hingga kematian menjemputnya. Seakan-akan mereka bebas dari hukuman Allah, tak ada sesuatu pun yang menimpa mereka, meskipun mereka berlaku lalim dan kejam. Sebaliknya, Ayub dan orang saleh lainnya justru mengalami kemalangan dan penderitaan yang berat.

Pandangan Zofar dan Ayub sebenarnya sama-sama benar! Baik orang fasik maupun orang benar dapat mengalami kemujuran dan kemalangan. Namun kemujuran yang diperoleh dengan cara salah tentu tidak akan memberikan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Sebaliknya, kemalangan yang dapat disebabkan banyak hal, tidak melulu harus dikaitkan dengan dosa atau dipahami sebagai hukuman dari Allah. Karena itu, kemujuran dan kemalangan mestinya tidak dipakai sebagai ukuran mutlak untuk menilai apakah seseorang itu diperkenan oleh Allah atau tidak. Allah dapat saja menggunakan keduanya sebagai cara untuk mendidik manusia agar percaya dan taat kepada-Nya.

Baiklah kita berhati-hati dalam memberikan penghiburan kepada mereka yang berbeban berat. Penghiburan mestilah memberi ruang bagi pengalaman dan penghayatan kita atas peristiwa yang kita alami. Dengan begitu, penghiburan yang kita beri, akan sungguh menyentuh dan menolong sesama agar makin sadar akan Tuhan. Hindari memberi penghiburan yagn hampa, karena melulu hanya berisi teguran, penghakiman, dan/atau sekadar kata-kata manis belaka. Lebih dari itu, refleksi kita atas sebuah peristiwa dan pergumulan dapat dilengkapi dan dikoreksi oleh penghayatan sesama. Selamat beristirahat. Tuhan, Sang Penghibur, menyertai kita!


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *