Sabtu, 30 Desember 2017 – Renungan Malam

159 Kali dibaca, Diterbitkan: 26 December 2017        


 

MINGGU ADVEN IV
SABTU, 30 DESEMBER 2017

Renungan Malam

MENGGUGAH KESADARAN

Ulangan 5:32-33
“Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan…” (ay.32)

Romo Oei Tik Djoen, SJ (seorang Pastor Jesuit yang mencanangkan pendidikan bebas Tahun 1973 kala menjabat Rektor SMA Kolese de Britto di Yogyakarta), dalam butir refleksinya menulis: “Keagungan manusia justru terletak pada kemungkinan untuk dapat memilih yang kurang baik, bahkan yang jahat sekalipun, tetapi akhirnya (mungkin dengan banyak pengorbanan), masih berani dengan bebas memilih yang baik. Memang ada risikonya (penyelewengan, ekses), tetapi risiko mengandung kemungkinan positif ‘pemanusiaan’ yang mahadahsyat; kemampuan dan kesanggupan untuk menentukan pilihan pribadi bagi tindak tanduknya serta jalan hidupnya sendiri perlu disertai dengan tanggung jawab pribadi di dalamnya”.

Pembelajaran di ruang terbuka dalam rentang masa yang panjang dan pengalaman perjumpaan dengan ragam peristiwa selama asa hidup yang dipertaruhkan dalam pengembaraan di padang gurun selama 40 tahun, dinarasikan oleh Musa melalui wejangannya sebagai butir-butir refleksi kepada umat sebelum memasuki Tanah Terjanji. Selama pembelajaran di ruang terbuka dalam pengembaraan di gurun, selalu terjadi dialog antara Allah sebagai Sang Maha Guru dan Israel sebagai murid. Dialog Cinta itu bermuara pada kesadaran tentang betapa indahnya Komunitas Umat Allah dibangun dalam semangat menyelami narasi kehidupan melalui Prasasti Dasa Firman sebagai ‘Buku Wajib’ – yang akan diterjemahkan dalam Dokumen Hidup umat hari lepas hari.

Sekolah Kehidupan telah kita lalui hari ini: Ragam pilihan yang hadir dalam aneka perjumpaan dan kerja layan; Sentuhan nurani yang teruji lewat hati yang rela memberi; Ruang bakti yang tidak sekedar didasarkan atas preferensi senang tidak senang, suka tidak suka, butuh tidak butuh, sebaliknya sungguh memahami pemanusiaan mahadahsyat yang mampu memaknai kasih tak bertepi. Lalu, ada momentum kehadiran Allah sendiri dalam sapa berjumpa. Ia merengkuh kita dalam dialog menggugah rasa, menuju kesadaran bahwa asa hidup yang telah dijalani hari ini disertai tanggung jawab pribadi di dalamnya. SOLI DEO GLORIA!


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *