Sabtu, 31 Maret 2018 – Renungan Pagi

46 Kali dibaca, Diterbitkan: 31 March 2018        


 

Minggu I Pra Paskah

Sabtu, 31 Maret 2018
Renungan Pagi

MENGAPA TAKUT AMBIL RISIKO?

Lukas 23:50-54
“Dan sesudah Ia menurunkan mayat itu, Ia mengapaninya dengan kain lenan…” (ayat 53)

Dalam prinsip kehidupan dan demi meraih kesuksesan, setiap orang hendaknya berani mengambil risiko. Masalahnya tidak sedikit orang takut mengambil risiko. Padahal barang siapa yang menghindari risiko akan kehilangan kesempatan untuk belajar, dan mengalami pertumbuhan. Seorang motivator yang bernama Max de Pree, mengingatkan kita bahwa “dengan menghindari risiko maka kita sebenarnya mempertaruhkan apa yang terpenting dalam kehidupan: mengalami pertumbuhan, dan tiba pada suatu tujuan. Jadi kalau tidak berani ambil risiko, jangan berpikir kemajuan dan keberhasilan”.

Pasca kematian Yesus di kayu salib, dalam tradisi Yahudi mengharuskan orang itu dikubur, tetapi bukan di tanah pusaka mereka (Ul. 21:22-23). Lalu bagaimana dengan mayat Yesus? Di sinilah tampil Yusuf dari Arimatea sebagai anggota Majelis Besar atau Mahkamah Agama, bukan para Murid yang malah bersembunyi ketakutan. Perhatikan apa yang ia lakukan: ia berusaha mengurus segala sesuatu agar Yesus menerima penguburan yang layak. Maka dengan penuh keberanian dan dengan segala risikonya, ia pergi menghadap kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus untuk diturunkan dan dikuburkan di kuburan miliknya. Kemudian ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat. Semua itu dilakukannya sendiri koleh karena rasa kagum, rasa hormat, rasa cinta dan sayang kepada Yesus yang telah mati.

Dilihat dari kisah ini, peran Yusuf dari Arimatea tampak kecil bagi figuran di dalam sebuah film. Namun, bandingkanlah sikapnya dengan murid-murid Yesus lain yang justru bersembunyi karena takut disangkutpautkan dengan Yesus (lihat Matius 26:56). Dibutuhkan keberanian untuk berpihak kepada Kristus dalam hidup sekarang ini. Apakah kita bersedia mempertaruhkan nama baik, harga diri, jabatan, bahkan nyawa kita demi iman kita kepada-Nya? Apakah kita sedia mengambil risiko saat mengakui Dia? Firman Tuhan mengatakan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-ku yang di sorga”.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *