SELASA, 25 SEPTEMBER 2018 – Renungan Malam

10 Kali dibaca, Diterbitkan: 25 September 2018        


 

GB.189 : 1 – Berdoa

IBADAH YANG MURNI

Yakobus 1:26-27
ibadah yang murni dan yang tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka…(ay.27)

Pemahaman manusia tentang ibadah yang diterima Tuhan atau ibadah yang murni ternyata beragam, sehingga tidak jarang membingungkan. Ada yang menekankan kebenaran ritual misalnya: membasuh tangan sebelum makan atau mencuci cawan, kendi dan perabot rumah tangga (Mark 7:3-4). Di kalangan Kristen misalnya baptisan percik atau selam sangat menentukan murni atau palsunya sebuah ibadah. Tata ibadah, rumusan doa yang dijadikan seperti mantra. Tidak jarang ritus membawa perpecahan dan kekerasan, orang-orang yang dianggap sekte atau bidat dipaksa atau disiksa untuk berjalan di jalan atau ritual yang benar.

Yakobus mempunyai kriteria yang lain. ibadah yang murni tidak ada hubungannya dengan ritus, tetapi ibadah yang murni berhubungan erat dengan belarasa atau kepedulian terhadap sesama. Ibadah yang murni didemonstrasikan dalam kepekaan dan uluran tangan terhadap anak-anak yatim piatu dan para janda. Ibadah yang murni berpihak dan memberi perhatian kepada yang marginal. Ibadah yang murni terlihat simpel dan tidak kompleks, yaitu: menolong orang susah. Tetapi ternyata melakukan yang simpel itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan melakukan ritus-ritus atau seremoni ibadah yang sangat detail, panjang dan berbelit-belit.

Seremoni dan ritus atau korban yang dipersembahkan manusia untuk memuliakan Allah, tidak akan terganggu apabila belarasa dan kepedulian hadir dalam seremoni itu. Tetapi ritus tanpa belarasa atau keprihatian terhadap sesama, akan membuat ibadah menjadi hambar seperti makanan tanpa garam atau makanan tanpa rasa. Dengan perkataan lain itulah ibadah yang tidak murni. Memelihara ritus dengan teliti tetapi mengabaikan orang yang menderita, diilustrasikan Yesus dengan sangat jelas dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Ibadah yang benar bukan menghindar dari yang sekarat menjelang ajal demi menjaga ritus atau menjaga diri agar tidak najis seperti imam besar dan orang Lewi. Tetapi ibadah yang benar didemonstrasikan oleh orang Samaria yang dianggap kafir.

GB.189:2,3
Doa : (Tuhan tolong kami agar kami mampu beribadah dengan benar. Kami lebih menghargai manusia ketimbang ritus atau seremoni)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *