Senin, 30 April 2018 – Renungan Pagi

102 Kali dibaca, Diterbitkan: 30 April 2018        


 

Minggu IV Sesudah Paskah

Senin, 30 April 2018
Renungan Pagi

ORANG BERHIKMAT ADALAH ORANG YANG MAMPU BERSYUKUR

Rut 2:18-23
“Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: “Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN…” (ayat 20a).

Bahasa Kasih yang ditunjukkan oleh Boas – yang nyata terlihat di dalam hal-hal seperti memberi perhatian, ucapan berkat, memberi makan dalam iklim kesetaraan, dan melindungi – dipahami oleh Naomi sebagai bentuk kehadiran Tuhan. Bagi Naomi, Tuhan hadir untuk memelihara dirinya dan Rut. Tidak hanya itu. Naomi memahami kehadiran Tuhan itu unutk mengeluarkan mereka dari kenestapaan hidup (baca: menebus; lihat ay. 20).

Kemampuan untuk memahami bahasa kasih sebagai suatu penebusan yang Tuhan lakukan sangat tidak mudah. Sebab, sangat mungkin, Naomi meninggikan dirinya sendiri dan mengajukan klaim bahwa hal-hal baik yang terjadi adalah karena dirinya. Praktek seperti itu terdengar sangat akrab dengan kita, bukan? Tapi, Naomi tidak melakukan itu. Justru, Naomi menaikkan syukur dan mengucapkan ucapan berkat (ay. 20).

Di perikop ini, karakter orang berhikmat mengalami penambahan, yaitu: bersedia untuk bersyukur, dan menyampaikan ucapan berkat. Sehingga, orang berhikmat bukan hanya mampu berkata-kata penuh hikmat, tetapi juga orang yang mau bersyukur dan memberkati. Ini penting sebab manusia memiliki kemampuan untuk merangkai kata-kata hikmat untuk diucapkan tetapi tidak mampu untuk bersyukur dan memberkati. Mau dan mampu untuk bersyukur terjadi karena itu keluar dari ketulusan, kepekaan, dan kesediaan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Contoh, bila seseorang mendapatkna promosi, maka respon pertama kali yang muncul adalah: “wajar, saya dapat promosi ini. Kan, saya berprestasi. Saya lulusan negeri. Saya bekerja keras. Saya tidak korupsi.” Ungkapan ini baru setengah benar. Ungkapan tersebut baru menjadi 100% benar bila respon pertama kali yang muncul adalah: “ya, saya kerja keras, saya tidak korupsi, saya berprestasi, tetapi tanpa perlindungan, penyertaan dan kebaikan Tuhan tidak mungkin saya dapatkan promosi ini”. Respon seperti ini hanya dapat keluar dari orang yang berhikmat karena ada ketulusan, kepekaan dan kesediaan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Jadi, jangan lupa, tiga “K” tersebut sangat penting.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *