TATA KRAMA Penting dimiliki si BUAH HATI

1,516 Kali dibaca, Diterbitkan: 19 January 2015        


Anak masa kini jelas lebih cerdas dibandingkan generasi2 sebelumnya. Namun tidak sedikit pihak2 yang mengkhawatirkan bahwa kesopanan dan tata krama anak2 di era modern ini justru kian menurun. Bagaimana cara menyikapinya?

Apakah saudara kerap mendengar anak anak, buah hati anda berkata-kata kasar?, atau tidak pernah mengucapkan terimakasih setelah di bantu orang lain?, atau mungkin juga tidak sabar dalam menunggu antrean?, atau tidak menunjukkan rasa hormat pada orang yang lebih tua?. Jika anda menjawab “Ya” untuk sebagian besar pertanyaan di atas, maka saudara perlu waspada. Bisa jadi, buah hati yang saudara banggakan telah mengabaikan sopan santun atau tata krama. Fakta tersebut tak bisa dibantah. Kini, kita dihadapkan pada sebuah realita di mana perkembangan pesat kemampuan kognitif* anak seakan tak diiringi kemampuan sosial yang baik. Ibaratnya, anak kita pintar secara akademik, tapi belum tentu ia berkarakter baik. Seorang sarjana psikologi menegaskan bahwa fenomena ini terjadi lantaran tuntutan ekonomi yang membuat kedua orang tua bekerja sehingga waktu untuk mengasuh anak sangat terbatas. Akibatnya, pendidikan anak sepenuhnya dipasrahkan pada sekolah. Ditambah lagi, kemajuan teknologi saat ini sangat pesat sehingga pengembangan kecerdasan yang terjadi tidak seimbang. Padahal, mengajarkan sopan santun dan tata krama pada anak sangatlah penting.

Seorang sarjana psikologi yang lain mengatakan, anak-anak kita akan menjadi dewasa dan masuk kedalam lingkungan masyarakat. Ketika mereka memiliki nilai-nilai yang baik sejak kecil, hal itu akan sangat membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan sosial di masyarakat.
Menumbuhkembangkan kepribadian anak memang bukan hanya terfokus pada kepandaian yang dapat diukur melalui IQ (Intelligence Quotient). Bentuk kecerdasan lain, terutama kecerdasan emosional (Emotional Quotient) tak kalah penting dimiliki anak.

Selain kebiasaan mengucapkan “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”, banyak hal yang bisa diajarkan pada anak sejak kecil, seperti budaya mengantre dan memberikan sesuatu kepada orang lain dengan baik-baik tidak dengan cara melempar. Kita juga bisa mengajarkan kepada anak untuk bertanya dulu pada yang punya ketika mau meminjam suatu barang, tidak main ambil begitu saja. Atau, jika mengambil sesuatu, harus dikembalikan lagi pada tempatnya.

Menurut psikolog, keberhasilan orantua dalam mengajarkan tata krama pada anak mereka bisa dilihat dari berbagai indikator, di antaranya anak menunjukan sikap mandiri, berani tampil, dan berani bicara didepan orang banyak. Anak juga tumbuh menjadi pribadi yang kreatif (sesuai batas usianya), kritis dan banyak bertanya.
Masalahnya, bagaimana cara mengajarkan sopan santun pada anak zaman sekarang?. “Mengajarkan tata krama yang sangat efektif adalah melalui contoh atau keteladanan dari orangtua dan orang dewasa lain” tegas seorang psikolog, “Dalam hal ini orangtua harus konsisten. Jangan pernah berhenti maupun lelah untuk terus mengingatkan anak agar senantiasa berperilaku sopan dan berbicara santun”.
Hal serupa juga ditegaskan psikolog lainnya. “Bentuk pengajaran tata krama yang paling efektif yang bisa dilakukan orangtua kepada anaknya adalah melalui contoh langsung oleh orangtua yang menunjukkan perilaku yang sopan secara konstan dan terus menerus”. Contohnya, saat akan minta bantuan, orangtua selalu mengatakan “tolong” dan “terimakasih.” Ketimbang hanya mengajarkan secara lisan, akan lebih baik ketika anak melihat praktek sehari-hari secara langsung.

Juga diingatkan, “Ketika orangtua menyuruh pembantu / pengasuh di rumah tanpa mengucapkan “tolong”, anak akan melihat dan mengamati. Jadi, konsistenlah mengucapkan kata-kata dan melakukan perbuatan yang sopan kepada siapapun.”
Yang pasti, mengajarkan kesopanan pada anak mesti dilakukan sedini mungkin. Kalau sampai terlambat, anak akan berperilaku tidak sesuai dengan harapan. Pada akhirnya, orangtua malah akan melabeli / mencap anak sebagai anak nakal dan memarahinya.
“Anak akan tumbuh besar dan tambah dewasa. Apa yang dicontohkan orangtua, itulah yang akan dilakukannya kelak. Karena itu, orangtua harus menyadari diri dulu apa yang mau mereka ajarkan pada anak. Terapkan hal tersebut pada diri sendiri. Jika ingin anaknya sopan, perlihatkan perilaku yang sopan. Jika ingin anaknya rajin, tunjukan bahwa kita memang rajin, tegas seorang psikolog.
Tidaklah mudah mengajarkan sopan santun pada anak-anak, terlebih di zaman modern ini. Tak bisa dipungkiri ada sejumlah kendala yang dihadapi orangtua.

Salah satunya adalah kemajuan teknologi informasi yang tidak membatasi lingkup atau area komunikasi maupun informasi. Anak bisa mendapatkan contoh perilaku dari mana saja dan kapan saja. Selain itu, orangtua masa kini sebagai pendidik utama dan pertama memiliki keterbatasan waktu dalam mengasuh anak karena harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan meniti karier.
Kalau sudah begini, para psikolog tersebut menyarankan agar orangtua mengelola waktu sebaik mungkin sehingga mereka memiliki momen berkualitas untuk berinteraksi dengan anak. Pada saat itulah, mereka bisa secara bertahap menanamkan sopan santun dan tata krama.
“Walaupun orangtua bersikap sopan, tetapi jika hal tersebut tidak pernah disosialisasikan ke anak, maka akan sulit untuk mewariskan sikap sopan tersebut kepada anak. Orangtua yang tidak bisa mencontohkan tata krama secara konkret juga menjadi kendala tersendiri.” Apalagi, ada saatnya anak akan terpengaruh teman sebaya atau meniru orang lain. Namun, jika nilai yang ditanamkan sudah kuat, maka anak akan bisa kembali ke jalur yang benar manakala dia mulai terpengaruh hal-hal buruk dari pergaulannya.
“Sebaliknya, jika pengajaran nilai-nilai dan tata krama sejak dini sudah lemah, maka anak akan lebih mudah melanggar dan semakin lama semakin sulit dikontrol oleh orangtua,” tegas seorang psikolog.

“Memang kita sebagai orangtua tidak bisa mengontrol 100%, tetapi kita selalu bisa mengawasi.”

Kunci utama adalah di rumah. Ketika di rumah sudah ditanamkan sejak dini dan anak secara konsisten melihat sopan santun yang dicontohkan orangtua, hal itu akan menjadi benteng bagi anak, buah hati saudara.

*Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif memiliki enam jenjang atau aspek, yaitu:
1. Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
2. Pemahaman (comprehension)
3. Penerapan (application)
4. Analisis (analysis)
5. Sintesis (syntesis)
6. Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.

Categories: Artikel, Gaya Hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *