PENJELASAN KALENDER GEREJAWI GPIB

Simbol Kalender Gerejawi GPIB
Kalau kita perhatikan setiap ibadah minggu pada minggu-minggu tertentu gambar pada kain mimbar maupun stola yang digunakan presbiter berubah-ubah, ini disebabkan perubahan kalender tahun gereja. Berikut ini info mengenai gambar & warna pada kain mimbar dan stola dalam Ibadah Minggu & Ibadah Khusus GPIB
Pengantar :
GPIB merasa wajib untuk memelihara tradisi Kristiani yg berbentuk simbol-simbol karena mempunyai arti yang khas bagi iman Kristen. Simbol-simbol itu biasanya disesuaikan dengan Tahun Gereja yang diungkapkan melalui warna-warna khusus yang menjelaskan arti tentang berita karya penyelamatan Allah. Disesuaikan dengan Tahun Gereja karena semua peristiwa dan perbuatan penyelamatan Allah, seluruh karya Yesus pada masa lampau dan apa yg dilakukan oleh gereja mula-mula di dalam ibadah mereka, kembali dibentangkan di depan kita masa kini. Warna-warna liturgis itu secara internasional mengandung arti sebagai berikut:
- Putih artinya kebersihan, kesucian, kekudusan, kemeriahan, kedamaian dan kesederhanaan.
- Merah artinya keperwiraan, keberanian, kesatiaan dan kepahlawanan.
- Ungu artinya pertobatan.
- Hijau artinya rasa syukur, terima kasih dan puji-pujian.
- Hitam artinya kematian & kedukaan.
Fungsi gambar dan warna kain minbar & stola dimaksudkan agar apabila warga jemaat memasuki gedung ibadah, maka dengan melihat kain mimbar dengan warna liturgis dan logo yang dipergunakan, dengan segera mereka akan memahami apa makna dan suasana dari ibadah yang diselenggarakan.
–
ADVEN

(Lat. Adventus) artinya ‘kedatangan.’ Istilah ini dulu kala dipakai umum dalam Imperium Romawi untuk kedatangan kaisar yang dianggap sebagai dewa. Adven juga terkait dengan masa penantian Mesias oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Berdasarkan latar belakang itu maka para pengikut Kristus memberi makna baru bagi ‘adven’ yakni untuk menyatakan kedatangan Tuhan Yesus. Bagi mereka bukan kaisar, melainkan Yesus sebagai Raja dan Tuhan yang datang. Bahwa Mesias yang dinantikan oleh umat Israel sesungguhnya telah datang dalam diri Yesus Kristus. Dia sudah datang dan akan datang.
Jelas, bahwa Minggu-minggu Adven merupakan masa persiapan bagi orang Kristen untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus. Kedatangan-Nya itu dipahami adalah pertama kali dalam bentuk bayi Yesus yang lahir di kandang Betlehem, yang dirayakan pada Hari Natal. Perayaan ini terus mengarahkan jemaat untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya kembali, yaitu pada akhir zaman.
Adven dirayakan selama 4 (empat) Minggu sebelum Natal yang ditandai dengan penyalaan lilin Adven (lilin Adven I warna ungu tua; Il warna ungu muda; III warna pink; IV warna merah muda. Perayaan Natal dimulai pada malam Natal tanggal 24 Desember, ditandai dengan penyalaan Lilin Natal berwarna putih, yang terus dinyalakan pada perayaan Natal pertama tanggal 25 Desember, Natal kedua tanggal 26 dan pada Hari Minggu sesudah Natal sebelum Hari Epifani. Simbol Minggu Adven, seperti terdapat pada kain mimbar dan stola GPIB adalah Salib – Jangkar warna kuning gading di atas kain Warna Ungu muda.
Arti:
Simbol Salib – Jangkar dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di katakombe-katakombe. Simbol ini sebenarnya merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari menjadi simbol universal yang menunjuk pada penantian yang penuh pengharapan. Pengharapan adalah sauh (jangkar) yang kuat bagi jiwa kita. Dengan pengharapan dan iman, orang percaya tetap menanti kedatangan Yesus Kristus. Sebab Dia akan datang untuk membebaskan orang percaya dari segala penderitaan yang mereka alami.
–
NATAL

Kata Portugis ‘Natal’ dari bahasa Latin Natalis (Dies Natalis) yang berarti Hari Lahir. Masyarakat dalam Imperium Romawi dahulu menggunakan istilah ini untuk kelahiran dewa Sang Surya; dies natalis invicti yang berarti hari kelahiran matahari yang panyembahan kaisar seragai dewa sepent matahari enemi kehormatannya sendiri sebagai ‘tuhan’ maka pada abad ke-3, kaisar Roma menetapkan perayaan hari kelahirannya pada 25 Desember.
Di kemudian hari, ketika seluruh imperium Romawi di-Kristen-kan maka tanggal tersebut diambil alih dan disi dengan makna baru, yaitu sebagai Dies Natalis Yesus Kristus. Dalam hal ini Yesus dipahami sebagai Matahari Kebenaran, Terang dunia yang sebenarnya, Raja Alam semesta, Tuhan yang sanggup turun dari takhta-Nya. Karena itu, setiap tanggal 25 Desember selalu dirayakan sebagai Hari Kelahiran Yesus Kristus.
Kapan Yesus lahir? Tidak ada yang tahu secara pasti. Ada yang melakukan perhitungan tanggal kelahiran Yesus bertitik tolak dari Lukas 1:26. Jikalau Tahun Baru Yahudi (awal bulan Tisyri) jatuh pada sekitar awal Oktober, maka bulan keenam jatuh sekitar bulan Maret. Apabila malaikat Gabriel datang kepada Maria pada akhir bulan keenam itu, maka akhir Desember (menurut kalender kita) adalah sembilan bulan sesudahnya. Ini sejalan dengan kalender Yahudi, bahwa bulan keenam dapat dihitung dari Paskah, sehingga sembilan bulan sesudahnya adalah bulan Desember – Januari. Artinya, kelahiran Yesus terjadi pada musim panas dan kandang di Betlehem sedang kosong karena domba-domba bisa bermalam di alam terbuka. Bertitik tolak dari Injil Matius (Mat 2), bahwa kelahiran Yesus terjadi sebelum Herodes Agung meninggal maka itu berarti Yesus lahir pada abad ke-4 Sebelum Masehi.
Terkait ketidakpastian tanggal kelahiran Yesus seperti tersebut di atas maka gereja mula-mula menyepakati suatu tentang waktu untuk kelahiran Yesus Kristus, yaitu antara 25 Desember – 6 Januari.
SUB OKTAF NATAL adalah sebutan untuk Hari Minggu di antara 25 Desember dan 1 Januari. Sering disebut Minggu I sesudah Hari Natal yang jatuh pada suatu tanggal sebelum ‘Oktaf Natal’ Sub Oktaf berarti’ di bawah oktaf.
OKTAF NATAL adalah Hari ke-8 sesudah 25 Desember, yaitu tepat pada tanggal 1 Januari. Tanggal ini penting, bukan saja karena menandai dimulainya Tahun Baru, tetapi menurut kesaksian Alkitab bahwa hari itu merupakan tanggal pemberian nama ‘Yesus’ bagi bayi Yusuf dan Maria ketika la disunat satu minggu sesudah la lahir (Luk. 2:21). Karena itu, kita beribadah pada malam akhir Tahun Lama dan permulaan Tahun Baru karena kita memahami bahwa Yesus Kristus yang telah lahir sebagai Matahari Kebenaran dan Terang Dunia akan menyertai kita mengakhiri tahun yang lama dan akan memuntun kita memasuki tahun baru. Dengan demikian, kita, akan berjalan dengan aman dan sejahtera sepanjang tahun karena di dalam Nama ‘Yesus’ (Penyelamat), kita akan diselamatkan. Simbol Hari Natal, Sub Oktaf dan Oktaf Natal adalah Palungan (kuning mas) yang di dalamnya bayi Yesus diletakkan, dilingkupi pelangi di atas kain warna putih.
Arti:
Pelangi merupakan simbol dari kesetiaan dan cinta kasih Allah bagi isi dunia. Setelah peristiwa air bah yang menghancurkan bumi karena dosa manusia (Kej 9) maka Tuhan Allah menghadirkan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya dengan Nuh dan keturunannya (seluruh umat manusia) serta semua makhluk hidup lainya. Allah telah berjanji bahwa la tidak akan menghancurkan bumi ini lagi dengan air bah. Jadi, pelangi mengingatkan kita tentang kesungguhan Tuhan Allah untuk memenuhi dan menggenapi janji-janji-Nya. Dan hal itu, telah dipenuhi dan digenapi di dalam Yesus Kristus yang lahir sebagai seorang bayi dan terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.
Jadi, pelangi dan palungan mau menjelaskan bahwa Tuhan Allah, dalam kasih-Nya yang tiada tara telah menjelma menjadi manusia dalam luhan Yesus Kristus, supaya siapa yang, percaa kepada-Nya, tidak binasa melankan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Pelangi dan palungan juga mau menjelaskan tentang penebusan dan pembebasan yang dilakukan Allah karena kesetiaan pada janji-Nya dengan rela merendahkan diri dengan cara lahir di tempat rendah dan hina. Pembebasan dan penebusan Allah di dalam Yesus Kristus tersebut diperuntukkan tidak saja bagi orang-orang pilihan, tetapi juga kepada semua orang, dan bahkan seluruh ciptaan.
–
EPIFANI

(Yun. Epifanea = penampakan). Istilah ini awalnya dipakai untuk penampakkan kaisar atau patungnya sebagai dewa pada puncak manifestasi di stadion atau amfiteater (tempat tontonan besar untuk rakyat).
Jemaat Kristen pertama tidak mengakui kaisar, melainkan Yesus Kristus yang tersalip sebagai Tuhan. Istilah ‘Epifani’ tetap mereka gunakan untuk peringatan Penampakan (penyataan atau tampil di muka umum) Sang Juruselamat yang bernama Yesus. Makanya, Epifani lebih terkait dengan perisitiwa-peristiwa sbb.: penampakan Bintang di Timur, penyembahan orang Majus, Bayi Yesus yang dibawa oleh orang tuanya ke Bait Allah untuk diserahkan kepada Allah, tampilnya Yesus di sungai Yordan untuk dibaptis Yohanes dan penetapan-Nya sebagai Anak Allah (dengan suara dari atas : ‘Inilah Anak-Ku’).
Hari Epifani dirayakan pada 6 Januari; sedangkan Hari Minggu Epifani dimulai pada Hari Minggu terdekat setelah tanggal 6 Januari. Hari Minggu terakhir Epifani adalah Hari Minggu transfigurasi (perubahan wujud Yesus) disebut juga Esto Mihi = ‘Jadilah bagiku’ (Mzm. 31:3b). Menurut Cerita Injil, Hari Minggu Transfigurasi merupakan titik peralihan dari Galilea menuju Yerusalem. Artinya, Yesus mulali meninggalkan Galilea untuk melakukan perjalanan-Nya ke Yerusalem.
Pada peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung dan penetapan kembali sebagai Anak yang dikashi dan dikenan oleh Allah (Lukas 9:31) dikatakan bahwa Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang ‘tujuan kepergian-Nya’ (Yun. ekshodos atau exodus-Nya) ke Yerusalem, yakni agar paskah digenapi oleh-Nya.
Simbol Hari dan Minggu Epifani adalah Bintang bersegi lima (warna putih) di dalam Lingkaran (warna kuning) di atas kain warna Hijau.
Arti:
Bintang bersegi lima ini lebih dikenal sebagai bintang Yakub, atau menunjuk pada terbitnya bintang dari keturunan Yakub (Bil. 24:17). Di kemudian hari dimanifestasikan melalui kelahiran Ye-sus Kristus, yang juga ditandai dengan munculnya/ terbitnya bintang di Timur (Mat. 2:1-2). Bintang ini pula yang menunjuk pada penampakan kemuliaan Yesus Kristus bagi umat manusia.
–
PRAPASKAH

PRAPASKAH adalah masa persiapan sebelum paskah. Prapaskah adalah masa di mana jemaat mengenang dan menghayati kembali seluruh perjalanan pelayanan Yesus yang penuh tantangan dan derita, yang dimulai dari Kaisarea Filipi sampai di Yerusalem. Oleh karena itu, masa ini adalah merupakan kesempatan untuk jemaat berpuasa, meratap, sadar diri, menyesal dan bertobat.
Ada yang memulainya pada hari ke-70 sebelum Paskah Septuagesima (berarti ‘yang ke-70’), melambangkan ke-70 bangsa di dunia atau ke-70 tahun masa pembuangan di negeri Babel (2 Taw.36:21; Yer. 25:11,12). Ada juga yang memulainya pada hari ke-60 sebelum Paskah; Sexagesima (berarti ‘yang ke-60’). Ada juga yang memulainya pada hari ke-50 sebelum Paskah; Quinquagesima (berarti ‘yang ke-50’), sama seperti Pentakosta (Hari ke-50), sehingga seluruh Paskah menjadi ‘100 Hari’.
Mengacu pada kesaksian Alkitab tentang masa pergumulan dan pertobatan, baik yang dialami umat Israel di padang gurun; Musa di atas gunung; Elia dalam perjalanan ke Horeb; Pertobatan orang Niniwe setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan terakhir Yesus yang berpuasa di padang gurun maka GPIB memperingati masa prapaskah selama 40 hari atau 6 (Enam) Minggu. Bahasa latinnya adalah Quadragesima (berarti ‘yang ke-40’); hari ke-40 sebelum Paskah, yang dikenal dengan Hari Rabu Abu (hari Rabu sebelum Minggu Prapaskah VI).
RABU ABU adalah awal masa 40 hari atau masa 6 Minggu Prapaskah. Abu yang secara simbolik ditaruh di atas kepala atau dijadikan alas tempat tidur menunjukkan perendahan diri, intropeksi, perkabungan, pertobatan, pendekatan diri kepada Tuhan: sebagai peringatan bahwa manusia tidaklah lebih daripada debu di hadapan Allah (Kej. 18:27; 2 Sam. 13:19; Est.4:1,3; Ayb, 2:8;42:6 Yes.58:5, Yeh. 27:30; Dan 9:3; Yun. 3:6).
Jika dihitung menurut jumlah hari antara Rabu Abu dan Paskah, maka ternyata jumlah itu bukan 40, melainkan 46. Dalam hal ini, 6 Hari Minggu tidak terhitung karena Hari Minggu tetap mengacu kepada Kebangkitan Kristus. Enam Hari Minggu tersebut bagaikan enam oasis di padang gurun yang menjadi tempat untuk melepas lelah dan penyegaran untuk terus menjalani gurun kehidupan. Jemaat yang beribadah pada 6 Hari Minggu dalam masa prapaskah akan memperoleh kekuatan sehingga tetap tabah melangkah menjalani masa 40 hari sampai memuncak pada Hari Paskah.
Minggu Prapaskah dihitung mulai dari Minggu Prapaskah VI dan seterusnya sampai Minggu Prapaskah I. Hal ini penting karena Jumat Agung atau peringatan Kematian Yesus Kristus terjadi dalam Minggu Prapaskah I.
-Hari Minggu VI Prapaskah (Latin Invocabit) artinya ‘Bila ia berseru’Mzm, 91:15)
-Hari Minggu V Prapaskah (Latin Reminiscere) artinya ‘Ingatlah’ (Mzm 25:6),
-Hari Minggu IV Prapaskah (Latin Oculi) artinya “Mata (ku) (Mzm. 25:15).
-Hari Minggu III Prapaskah (Latin Laetare) artinya ‘Bersukacitalah’ Yes, 66:10; bd Mazmur 122).
-Hari Minggu II PraPaskah (Latin Judica) artinya ‘Berilah Keadilan’ Mzm.43:1).
-Hari Minggu I Prapaskah (Latin Palmarum) artinya ‘Hari Palma’ (bnd. Yoh. 12:13), terkait perjalanan Yesus Masuk ke Yerusalem. Hari Minggu ini juga disebut Hari Minggu Passio (Minggu Sengsara).
Simbol Minggu Prapaskah adalah gambar Ikan warna putih dengan tulisan IXTUS warna emas di atas kain warna ungu tua; dibawah gambar tertulis ‘Yesus Kristus, Anak Allah, Juruselamat’ dari kata IXHTUS = YESU KRISTU, THEOS HUIOS, SOTERIA.
Arti:
Tanda ini merupakan suatu sandi rahasia di kalangan orang Kristen mula-mula yang sedang mengalami penganiayaan. Pada masa penyiksaan dan penganiaayaan yang hebat, orang-orang percaya tidak bisa saling menyatakan diri sebagai pengikut Yesus. Karena itu, agar mereka tetap bersatu dan saling mengenal di antara mereka sebagai pengikut Yesus, dan terlebih tetap mengakui iman bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan Juruselamat maka mereka menggambar ikan di telapak tangan masing-masing agar lebih dapat dikenal saat bertemu.
–
TRI HARI PASKAH

TRIHARI PASKAH adalah Jumat Agung (termasuk malam sebelumnya, yaitu Hari Kamis malam), Sabtu Teduh dan Minggu Paskah. Perjalanan melalui maut memasuki hidup sejalan dengan perjalanan umat Israel melalui Laut Merah (Teberau) dan Sungai Yordan menuju ke Hidup di Tanah Perjanjian. JUMAT AGUNG adalah peringatan kematian Yesus di salib di Golguta. Bahwa Yesus rela mengorbankan tubuh dan darah-Nya untuk menebus dan menyelamatkan manusia dan seisi dunia. Yesus mati sebagai seorang martir yang dibunuh dan sekaligus sebagai Saksi yang setia (Why. 1:5; 3:14).
Simbol dari Hari Jumat Agung adalah Salib (wama putih) dan mahkota duri (wama kuning) di atas wama dasar hitam.
Arti:
Salib merupakan lambang yang sudah sangat dikenal untuk menunjuk pada penderitan dan kematian Yesus. Salib juga menjadi tanda yang sering dipakai untuk menunjuk pada Kekristenan. Salib dan mahkota duri yang merupakan lambang ini penderitan dan kematian Yesus, hendak menjelaskan tentang kejamnya perlakuan yang telah Tuhan Yesus terima karena dosa manusia sampai pada kematian’Nya. Tetapi tidak hanya sampai di situ salib juga sekaligus menunjuk pada kemuliaan yang akan ia terima setelah penderitaan-Nya. SABTU-TEDUH adalah saat untuk hening, meneduhkan hati dan pikiran sambil mengenang bahwa tubuh Tuhan Yesus sedang di dalam kubur.
–
PASKAH

Sama seperti Jumat Agung dimulai pada malam sebelumnya (Kamis malam), maka begitu juga Hari Paskah, dimulai pada malam sebelumnya (Sabtu malam) (bnd. Kej.l:5,8,13 dst). Ada Gereja-yang meraya-kannya semalam suntuk, antara lain dengan membaca bagian-bagian Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) sehubungan paskah serta pelayanan Baptisan Kudus (menjelang subuh).
Paskah adalah Hari Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, yang ditandai dengan kubur kosong. Paskah jatuh pada Hari Pertama (Arab ‘AkhadlIbr. Ekhad): Kej. 1:5; Mat.28:1; Mrk.16:2; Luk 24:1; Yoh.20:1). Hari Pertama adalah Hari Minggu. Kata Minggu’ berasal dari bahasa Portugis (Dominggu(s) dan Latin Dominus, yang berarti “Tu(h)an. Karena itu Hari Minggu adalah Hari Tuhan (Why. 1:10).
Paskah adalah hari raya utama dalam Kekristenan karena merupakan titik tolak iman orang percaya (1 Kor 15:14). Karena itu maka Hari Paskah hendaknya dirayakan sebagai hari peringatan Gereja yang paling meriah dan harus dirayakan dalam kegembiraan dan sukacita.
-Minggu Paskah dirayakan selama 6 Minggu terkait masa penampakkan Tuhan Yesus kepada para murid, yaitu selama 40 hari.
-Hari Minggu Il Paskah (Lat. Quasimodo Geniti = Sama seperti bayi-bayi yang baru lahir’ (1 Ptr.2:2).
-Hari Minggu III Paskah (Lat. Misercordias Domini = ‘Kasih Setia Tuhan’ (Mzm.89:2), dalam kombinasi dengan Mzm.33:5). Hari Minggu ini juga sering disebut Pastor Bonus (Gembala Yang Baik).
-Hari Minggu IV Paskah (Lat. Jubilate = ‘Bersorak-sorailah’ (Mzm.66:1). Hari Minggu VPaskah (Lat. Cantate = ‘Nyanyikanlah’ (Mzm.98:1).
-Hari Minggu VI Paskah (Lat. Rogate = ‘Mintalah’, sehubungan dengan Doa untuk tumbuh-tumbuhan pertanian (cukup relevan!), juga sehubungan dengan ‘panen rohani’ yang ditandai oleh perayaan Pentakosta nanti.
Simbol untuk Minggu Paskah adalah bunga lily dengan warna dasar putih.
Arti:
Bunga lily merupakan simbol dari hari Paskah dan kekekalan. Umbi-umbian dari bunga lily haruslah ditanam dan mati dahulu di dalam tanah, baru kemudian daripadanya akan tumbuh suatu kehidupan baru. Melalui Paskah orang percaya telah menerima kehidupan baru yang diberikan lewat kematian dan penderitaan Kristus (band. Yoh 12; 34), dan kehidupan baru itu sendiri adalah kehidupan yang berkaitan dengan hidup kekal.
–
HARI KENAIKAN YESUS KRISTUS

Kenaikan Yesus Kristus ke surga selalu terjadi pada hari Kamis, hari ke-40. Peristiwa ini hendak menjelaskan bahwa Yesus Kristus kembali naik takhta kemuliaan-Nya yang telah ditinggalkan ketika diutus ke dunia. Karena itu, Yesus Kristus diakui sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Tim 6:151). Pesta ini dirayakan selama sepuluh hari dengan kemeriahan dan kegembiraan oleh semua orang percaya untuk memuliakan Yesus, Tuhan dan Raja yang telah bertakhta di sorga.
Hari Minggu sesudah Hari Kenaikan (Lat. Exaudi = ‘Dengarlah’ (Mzm.27:7,10), Menjelaskan tentang seruan agar Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya. Ayat 10 ‘Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku’, dapat dihubungkan dengan sabda Yesus dalam Yoh.14:18), Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu’. Bahwa Tuhan Yesus Kristus yang telah dimuliakan di sorga tidak akan meninggalkan kita; la akan selalu hadir dan menolong kita. Karena itu, Hari Minggu sesudah kenaikan tidak disebut Hari Minggu VII Paskah tetapi disebut Hari Minggu Pemuliaan lesus Kristus. Jelas, bahwa Pemuliaan Yesus Kristus terjadi sebelum la menderita dan sesudah la bangkit dari kematian.
Simbol Hari Kenaikan dan Hari Minggu Pemuliaan adalah Mahkota (kuning mas) dan Salib (kuning gading) dengan warna dasar putih.
Arti:
Kemuliaan yang Yesus Kristus terima dengan kenaikanNya ke surga membuat mahkota duri yang diletakkan di kepala-Nya ketika la menderita dan mati di salib berubah menjadi mankota kemuliaan. Jadi, penderitan maupun kematian yang dialami para pengikut Kristus di dunia bukanlah tanpa maksud karena semuanya adalah untuk menerima mahkota kemuliaan. Barang siapa yang percaya kepada-Nya dan setia sampai mati, iapun akan mendapatkan mahkota kehidupan (bnd. Filp 2:19.11; Wahyu 2:10).
–
PENTAKOSTA

(Yun. Pentakosta berarti ‘yang ke-50’), yakni hari ke-50 sesudah Hari Paskah. Hari ke-50 sesuai Ulangan 16:9-12 adalah suatu pesta besar, yakni pesta panen raya dan pesta kemerdekaan. Tidak kebetulan bahwa pada Hari ke-50 Yerusalem penuh orang. Pada Hari Pentakosta, Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus ketika la naik takhta di surga, turun ke atas para murid. Artinya, mereka semua dibaptis dalam Roh Kudus, sehingga mereka mendapat kekuatan dan keberanian untuk bersaksi (Kis 2:14, 22-24, 32-33, 36).
Dengan demikian, Roh Kudus adalah panen pertama bagi orang percaya sesudah Yesus Kristus bangkit dan naik takhta di surga. Dan juga orang-orang yang menjadi percaya oleh pemberitaan para rasul dengan Kuasa Roh Kudus (Kis. 2:37-42) adalah juga panen pertama. Makanya Hari Pentakosta diperingati juga sebagai hari kelahiran Gereja, di mana melalui kuasa Roh Kudus, Gereja dilengkapi untuk melaksanakan tugas pengutusannya kepada bangsa-bangsa.
Simbol Hari Pentakosta adalah lidah-lidah api (pinggirnya kuning) dan burung merpati (warna perak) dengan wama dasar merah; warna keberanian untuk memberi kesaksian (martyria).
Arti:
Lidah-lidah api dan burung Merpati yang menukik menunjuk pada peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Rasul 2:2-3). Tujuh lidah api merupakan simbol ke tujuh suluh api, yaitu ketujuh roh Allah (Why. 4:5) membentuk lingkaran yang menghadirkan kekekalan, keabadian.
–
TRINITAS

(Lat. Trinitatis = Trinitas). Perayaan Hari Minggu trinitas baru ditetapkan pada abad ke-14. Dirayakan pada Hari Minggu I sesudah Hari’Pentakosta untuk menyaksikan bahwa seluruh karya dan tindakan Allah Yang Esa atau Allah Tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) telah dinyatakan untuk dialami oleh semua orang percaya. Di sini pernyataan Allah dan kekudusan keesaan-Nya menjadi pusat penyembahan jemaat. Simbol Hari Minggu Trinitas adalah Segitiga (Triquetra) dengan warna dasar Putih, yang merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan.
Arti:
Tiga buah lekukan yang tidak terputus, saling bersambung, menyatakan keesaan dan kekekalan dari Tritunggal. Pada pusat dari ketiga lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol dari Tritunggal.
–
HARI MINGGU BIASA

Sesudah Hari Minggu Trinitas maka Gereja dan orang-orang percaya merayakan Hari Minggu Biasa atau lebih dikenal sebagai Hari Minggu-Hari Minggu sesudah Pentakosta. Minggu-minggu sesudah Pentakosta ditandai dengan warna Hijau; warna pertumbuhan dan kesuburan bagi gereja. Masa ini juga disebut masa Gereja berjuang. Di dalamnya, Gereja dingatkan tentang penyertaan Tuhan di dalam perjuangannya. Yesus Kristus, Kepala Gereja, melalui Roh Kudus, selalu beserta Gereja-Nya (Allah beserta kita). Inilah alasan kita beribadah pada Hari Minggu karena kita yakin bahwa Yesus Kristus yang telah bangkit dan menang akan selalu menyeratai kita dalam setiap perjuangan dan menjadikan kita pemenang.
Simbol Hari Minggu sesudah Pentakosta adalah perahu yang sedang berlayar di dengan samudera, ditunutun oleh burung Merpati (putih) dengan ranting zaitun diparuhnya dan dilingkupi pelangi dengan wama dasar Hijau.
Arti:
Perahu merupakan simbol dari Gereja. Ide ini menjadi berati bagi orang Kristen mula-mula yang mengalami penganíayaan dan pergumulan, ketika mereka mengetahui bahwa akan ada pertolongan dari Tuhan. Hal ini nyata lewat perpaduan antara perahu dan pelangi. Di sini janji Allah tentang pertolongan-Nya itu mendapat penekanan yang kuat. Pelangi melambangkan Kesetiaan Allah atas janji-Nya untuk memelihara bumi, khusus Gereja dan orang-orang percaya. Burung merpati dengan ranting zaitun di paruhnya mengungkapkan tentang janji keselamatan dan kehidupan dari Allah (bnd. Kej. 8:10.11) melalui Roh Kudus yang akan terus menyertai sampai ke tempat tujuan. Jadi sekalipun Gereja mengalami berbagai ancaman goncangan dan cobaan, Gereja akan tetap hidup di dalam dan oleh janji Allah tersebut di dalam Kristus melalui Roh Kudus.

