Rabu, 16 Mei 2018 – Renungan malam

51 Kali dibaca, Diterbitkan: 16 May 2018        


 

Minggu Pemuliaan

Rabu, 16 Mei 2018
Renungan malam

KETETAPAN HATI SEBAGAI NAFAS KETEKUNAN

Kisah Para Rasul 1 : 12 – 14
“… bertekun dengan sehati…” (ayat 14)

“Kaca, porselen dan nama baik adalah sesuatu yang gampang sekali pecah dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa meninggalkan bekas yang nampak” (Benjamin Franklin). – Setia, itulah yang digambarkan oleh cara hidup para rasul setelah Yesus naik ke surga. Mereka setia menaati pesan Tuhan Yesus untuk tinggal di Yerusalem menantikan kuasa Roh Kudus memenuhi mereka (ay.4-5). Hanya oleh kuasa Roh Kudus mereka akan dimampukan menjadi saksi-Nya hingga ke ujung dunia. Kesetiaan merupakan komitmen yang tak bisa dirusak dengan mudah. Setia berarti menepati semua komitmen seumur hidup. Para rasul mewujudkannya dalam perilaku bertekun dengan sehati dalam doa bersama.

Mereka menyatukan hati, fokus, seia sekata, sepakat, memohon satu hal yang sama, penggenapan janji Bapa. Dari sini kita melihat prinsip dasar dalam berdoa adalah relasi antara Tuhan dan manusia yang tercipta indah. Para rasul mau lebih mengarahkan kita secara bersama melihat hal indah jika kita menciptakan semangat untuk menghadirkan sikap membangun kehidupan doa bersama dalam konteks persekutuan di mana sebagai jemaat, kita adalah anggota tubuh Kristus. Kesehatian dan tekun berdoa adalah kunci untuk saling menjadi saluran berkat Tuhan, terlebih lagi sebagai pengikut Kristus. Kesehatian tumbuh dari sikap mau menjadi bagian dari yang lain, dan tekun merupakan komitmen bersama di dalam pikiran dan kehendak dengan tujuan yang sama yaitu penggenapan janji Allah Bapa.

Calvin memandang persatuan gereja itu penting. Tiap orang percaya menjadi bagian mutlak dari gereja yang berperan aktif dalam kehidupan gereja. Ketaatan pada Kristus dibuktikan dengan kesediaan mengikatkan diri satu sama lain dan menumbuhkan relasi penuh damai di antara sesama.

Perilaku para rasul dalam kebersamaan dengan Maria dan saudara-saudara Yesus adalah cikal bakal jiwa persekutuan yang disandang terus oleh gereja Tuhan. Orang Kristen terpanggiI menghargai harmoni (keselarasan) antara kerja, istirahat dan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga dan persekutuan di dalam Gereja-Nya.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *