SABTU, 8 SEPTEMBER 2018 – Renungan Pagi

16 Kali dibaca, Diterbitkan: 8 September 2018        


 

GB.208 : 1 – Berdoa

TENANG MENANTIKAN DATANGNYA KESUSAHAN

Habakuk 3: 15- 16
Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, (ay. 16)

Keadaan hidup ini seperti dua sisi mata uang, yang tidak terpisahkan satu sama lainnya. Keadaan susah atau senang, keadaan hidup atau mati, keadaan sakit atau sehat, keadaan jatuh atau bangun, miskin atau kaya, kecil atau besar, hitam atau putih dan seterusnya. Karena seperti dua sisi mata uang, maka tidak ada seorangpun dari kita yang bisa memilih hanya yang senang saja, hidup saja, kaya saja, atau sehat saja dan menolak keadaan yang tidak kita sukai. Semua keadaan itu dapat terjadi di dalam kehidupan kita kapan saja dan kita tidak bisa menghindarinya. Oleh karena kita tidak dapat memilih keadaan seperti yang kita inginkan, maka cara yang terbaik bagi kita adalah menerima dengan lapang dada semua keadaan itu jika terjadi dan mendatangi hidup kita. Menerima dengan sakit, selamat datang penderitaan, selamat datang kematian.

Sulit untuk melakukannya, tetapi itulah yang dilakukan Habakuk. Dalam ketenangan ia akan menantikan datangnya hari kesusahan yang akan menyerang bangsa Yehuda. Walau hatinya gemetar, walau bibirnya menggigil, tulang-tulangnya tersengal, dan tubuhnya gemetar di tempat di mana ia berdiri saat Tuhan memberitahukan apa yang akan terjadi, tetapi ia akan menantikan datangnya hari kesusahan itu dengan tenang. Ketenangan itu datang dari kepercayaan kepada Tuhan Allah yang menjadi kekuatan bagi Habakuk.

Ketenangan menghadapi datangnya kesusahan sangat menentukan sikap kita menghadapi dan menyelesaikan kesusahan itu. Ketenangan itu akan membuat kita bisa berpikir jernih, tindakan kita menjadi lebih terarah dalam menjawab persoalan, tubuh kita tetap sehat (tidak stress, tidak sakit kepala dan jantung tidak berdebar-debar), kita memiliki kekuatan dan sukacita. Di saat kita mengatakan selamat datang kesusahan, maka kesusahan itu menjadi teman kita, yang akan kita perlakukan dengan baik. Jikalau kesusahan menjadi teman, maka kesusahan itu tidak menjadi kesusahan lagi. Hidup kita akan bebas dari kesusahan. Sambutlah kesusahanmu dengan percaya bahwa Tuhan yang telah memelihara hidup kita di masa lalu akan memelihara kita di masa sekarang dan tetap memelihara hidup kita di masa yang akan datang.

GB.208 ; 3
Doa : (Kami akan menantikan dan menyambut semua keadaan di dalam hidup ini dalam ketenangan, karena Engkaulah kekuatan kami)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *