SELASA, 5 FEBRUARI 2019 – Renungan Pagi

10 Kali dibaca, Diterbitkan: 5 February 2019        


 

MINGGU IV SESUDAH EPIFANIA

GB 17:1,4 -Berdoa

MENGALAH

Hakim-Hakim 11:1-3
Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob.., (ay 3a)

Mengalah untuk menang. Mengalah demi kebaikan. Menang bukan berarti mendapatkan kekuasaan, tetapi kemenangan yang dimaksud adalah kejahatan dapat dihentikan. Keributan dapat diredakan. Pertikaian pun dapat diakhiri. Ketentraman hidup bersama terjaga dan kedamaian hidup dapat berlangsung.

Yefta,orang Gilead pahlawan gagah perkasa, lahir dari perempuan sundal sehingga bukanlah calon pemimpin ideal. Yefta diusir saudara isterinya (anak-anak laki-laki dari isteri Gilead, ayah Yefta) sehingga tidak berhak mendapatkan milik pusaka, Yefta melarikan diri. Sesungguhnya, Yefta mempunyai kekuatan dan kuasa untuk menghadapi saudara-saudaranya, dan berjuang mendapatkan bagian yang menjadi haknya karena Yefla juga seorang anak laki-laki. Namun bukan perlawanan yang ditunjukkan . Yefta justru lari dari saudara-saudaranya. Yefta mengalah terhadap saudara-saudaranya. Yefta menghindari terjadinya pertengkaran diantara mereka sebagai saudara, sehingga ketenteraman dan kedamaian dapat terjaga dalam kehidupan keluarga Gilead. Yefta menunjukkan diri sebagai seorang pahlawan yang gagah perkasa, bukan karena menang dalam peperangan, tetapii menang atas pertarungan batin-nya dengan mengalah kepada saudara-saudaranya.

Sikap mengalah memerlukan jiwa yang besar karena harus dapat mengalahkan diri sendiiri atas ego, gengsi dan harga diri. Kebanyakan orang menginginkan agar dirinya, kepentingannya mendapatkan tempat pertama dan utama, sehingga harus didahulukan. Dalam situasi seperti ini terjadilah gesekan dan terbuka peluang besar untuk berkonflik. Karena itu sangat diperlukan sikap mengalah. Mengalah itu baik, sebagai wujud menghargai sesama, bahkan usaha untuk menjaga ketertiban dan kedamaian.

Memulai aktifitas di hari ini dalam ungkapan syukur kepada Tuhan, kita perlu memiliki jiwa besar untuk menundukkan keinginan diri dan ego, agar kedamaian menjadi bagian dari kehidupan bersama yang mendatangkan sukacita dan berkat.

GB 277:1,2
Doa: (TUHAN, mampukan kami untuk menundukkan ego, sehingga dapat menghadirkan dama sejahtera-Mu)


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *