Selasa, 26 Desember 2017 – Renungan Pagi

108 Kali dibaca, Diterbitkan: 26 December 2017        


 

MINGGU ADVEN IV
SELASA, 26 DESEMBER 2017

Renungan Pagi

TELADAN BELARASA

Lukas 3:21-22
“…Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus…” (ay.21,22)

Menggunakan ‘sarimbit’ (bhs. Jawa: busana batik dengan aneka motif dan pola secara berpasangan: papa-mama/couple, ber’seragam’ anggota keluarga) pada acara khusus termasuk menghadiri ragam perayaan selalu memberi kesan estetik, kompak, bercitarasa dan elegan. Akur dan guyub yang tercitra oleh keluarga yang ber-sarimbit ada kalanya terjadi juga dalam peristiwa Ibadah Sakramen Baptisan Kudus ketika orangtua, para saksi (bapak-ibu rohani), keluarga yang dibaptis berbusana batik dengan corak motif serupa dan berpola seragam yang apik dipandang mata. Kearifan dari berbusana ‘sarimbit’ sesungguhnya juga mengandung makna belarasa, keterpautan hati dan jalinan persaudaraan yang kental.

Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes dengan bergabung bersama para peziarah di Yordan merupakan momen bagi pengurapan-Nya yang khusus sebagai Mesias (Kis. 10:38). Allah berbelarasa dan dimensi surgawi terbuka menandakan lawatan-Nya bagi umat manusia. Kehadiran burung merpati sebagai perwujudan Roh Kudus yang turun dan bersemayam dalam diri Yesus memperkuat simpul-simpul kesaksian bahwa “Yesus sebagai Yang Terurapi”. Ungkapan Mesianis dari Mazmur 2:7: Anak-Ku Engkau disimpul erat dengan gema Yesaya 42:1 yang melukiskan Hamba Yahwe sebagai orang yang Kupilih yang berkenan kepada-Ku. Kerajaan Belarasa dimaklumatkan bahwa Ia yang diurapi bukan menjalankan kuasa-Nya dengan kemegahan tetapi sebuah karya pengabdian melalui ‘Pengurbanan Diri’. Belarasa-Nya dinyatakan dengan hadir menyatu bersama para peziarah di zona berkumpul yang sama dalam gerak pembaptisan Yohanes beriring sentuhan arus sungai Yordan. Yesus menyatu dengan denyut kehidupan menuju kehidupan yang selalu diperbaharui-Nya.

Peristiwa baptisan bagi anak-anak yang kita saksikan membuat kita turut lebur dalam gerak belarasa untuk berkomitmen berarak bersama memaknai jalan hidup yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ber-‘sarimbit’ (ber-’pasang’) melalui bingkai asih, asah, asuh dan berbelarasa bagi anak-anak kita, generasi masa depan keluarga, gereja dan bangsa.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *