Kamis , 29 Maret 2018 – Renungan Pagi

132 Kali dibaca, Diterbitkan: 29 March 2018        


 

Minggu I Pra Paskah

Kamis , 29 Maret 2018
Renungan Pagi

CIUMAN KEMUNAFIKAN

Markus 14:43-46
“Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat” (ayat 44)

Biasanya setiap opera sabun atau sinetron yang ditayangkan di televisi selalu berusaha memainkan emosi penontonnya. Mulai dengan menampilkan tokoh-tokoh berkarakter sehingga mengundang reaksi macam-macam: sedih, marah dan tertawa. Demikian pula kisah pengkhianatan Yudas terhadap Yesus yang nyata, namun persis seperti sinetron dengan peran Yudas yang sangat berkarakter, dan kalau ini benar-benar sinetron sebenarnya cocok untuk dapat penghargaan pemeran terbaik, karena perannya dalam pengkhianatan Yesus telah menimbulkan gelombang kemarahan dari setiap orang yang membaca kisahnya.

Dalam kisah penangkapan Yesus y ang mirip sinetron, kita menyaksikan bagaimana Yudas menyerahkan Yesus dengan sebuah ciuman, sepertinya ingin menunjukkan kedekatan dan keakraban, sebab hanya orang-orang yang memang punya hubungan (dekat) dengan kita sajalah yang dapat kita cium dan memberikan ciumannya. Di samping itu dengan ciuman, Yudas hendak menunjukkan seolah-olah ia memberi salam dan memberi hormat kepada Yesus. Tetapi sesungguhnya ciuman Yudas mempunyai maksudnya sendiri. Yudas mencium dengan maksud yang tidak tulus. Ia mencium Yesus dengan maksud licik, yaitu untuk menghancurkan Yesus. Inilah ciuman penuh kemunafikan yang sangat berbahanya. Ciuman yang sepertinya menunjukkan kedekatan dan keakraban tetapi sesungguhnya sangat mencelakakan.

Sulit dibayangkan sebenarnya bagaimana Yudas bisa menyerahkan Yesus dengan cara yang sangat menyakitkan. Jelas sekali bahwa Yudas adalah pengkhianat yang keji dan tidak tahu berterima kasih. Bagaimana perasaan Anda jika dikhianati dengan sebuah sikap yang terlihat manis padahal itu kepura-puraan belaka? Sangat menyakitkan rasanya. Demikian sakit yang dialami Yesus, apabila kita datang ke hadapan-Nya dengan hati yang tidak tulus dalam mengasihi Dia. Yesus mengetahui apa yang ada di hati kita. Oleh karena itu Ia terluka dan sangat sedih. Hati-Nya seringkali hancur karena kemunafikan kita.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *