Rabu, 17 Januari 2018 – Renungan Pagi

218 Kali dibaca, Diterbitkan: 13 January 2018        


 

Minggu II Sesudah Epifania

Rabu, 17 Januari 2018
Renungan Pagi

HANYA TUHAN HARAPANKU

Yohanes 5:1-9a
“… , berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” (ay.6)

Kalau kita mengalami pergumulan dengan sakit fisik yang begitu lama dan sudah diupayakan penyembuhannya tetapi tetap sakit tentu akan muncul rasa kecewa. Bukan hanya yang sakit tetapi juga yang menjaga. Semakin lama kita ada dalam situasi yang demikian akan membuat kita putus asa, kehilangan harapan untuk dapat pulih. Bisa saja terjadi kita memutuskan untuk berhenti berobat dan berhenti berharap.

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda. Ada lima serambi dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit yang menanti goncangan air kolam itu. Sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air. Siapa yang lebih dulu masuk ke dalam kolam sesudah goncangan air maka akan sembuh. Air kolam itu menjadi satu-satunya harapan bagi yang sakit untuk sembuh. Yesus melihat ada seorang yang terbaring sakit. Cukup lama ia sakit, dikatakan 38 tahun. Kalau selama 38 tahun ia terbaring dalam keadaan sakit tetapi tetap berpengharapan pada air kolam itu, maka dapat dikatakan bahwa ia tetap mempunyai pengharapan untuk pulih. Yesus melihat orang itu dan berbelas kasih kepadanya. Yesus menawarkan kesembuhan kepada orang itu karena Yesus tahu itulah yang dibutuhkannya. Selama 38 tahun ia terus berpengharapan. Kata-Nya, “Maukah engkau sembuh?”. Jawab orang itu, “Tuhan, tidak ada seorangpun yang menurunkan aku ke kolam itu…”. Sedemikian lama ia berpengharapan kepada manusia, siapa tahu ada yang akan menolongnya, tetapi tidak seorangpun yang bersedia untuk menolong. Tidak ada seorangpun yang peduli kepadanya.

Dalam hal ini hanya Yesus yang peduli kepadanya. Belas kasih Yesus, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”. Yesus menyembuhkan orang yang sakit itu karena belas kasih-Nya. ia tahu apa yang diperlukan oleh orang yang sakit itu. Selama 38 tahun ia ada dalam pengharapan bahwa akan ada orang yang menolongnya. Apa yang diharapkan oleh orang sakit itu hanya dapat diwujudkan oleh Tuhan dan ia tertolong. Orang percaya harus terus berpengharapan di dalam Tuhan dan hanya Tuhan yang dapat mewujudkan harapan setiap orang percaya.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *