Jumat, 4 Mei 2018 – Renungan Pagi

140 Kali dibaca, Diterbitkan: 4 May 2018        


 

Minggu IV Sesudah Paskah

Jumat, 4 Mei 2018
Renungan Pagi

RENCANA TUHAN BAGI KITA: TETAP TEGUH BERSAMA DIA SAJA

2 Raja-Raja 4:25-37
“Demikianlah perempuan itu berangkat dan pergi kepada abdi Allah di gunung Karmel…” (ayat 25)

Umumnya, di saat dirundung suatu musibah, segala sesuatu menjadi gelap, tidak menentu, dan terlihat tidak ada jalan keluar. Luruh dan luluh diri di tengah musibah tersebut. Namun demikian, perikop ini bercerita tentang keteguhan seorang perempuan Sunem di tengah musibah yang dihadapinya: anaknya wafat. Keteguhan sang ibu terlihat di hal-hal berikut: 1. Menemui orang yang tepat untuk musibah yang dihadapi (ay. 25), dan 2. Memiliki kejelasan arah (ay. 30). Kedua hal itu dilakukan di dalam hidup bersama dengan kejutan ilahi.

Jelas terlihat, keteguhan ibu dari Sunem ini berakar di dalam pengalamannya mendapatkan anugerah Tuhan (ay. 17). Setelah mengalami anugerah Tuhan, sang Ibu mengalami perubahan. Perhatikan ayat 16. Di ayat itu, sang ibu bersikap skeptis; tidak terlihat antusiasme atau keteguhan hati di dalam merespon apa yang disampaikan Elisa. Sikap skeptis beliau mewakili gambaran hidup yang menutup “kejutan Ilahi”. Kehidupan seperti ini dijalani oleh banyak orang. Namun, setelah menerima anugerah Tuhan, ayat 25 menunjukkan sikap skeptis tersebut sudah lenyap. Ada keteguhan hati tentang kejutan Ilahi. Ada antusiasme atas kejutan Ilahi. Ada keteguhan untuk hidup bersama dengan kejutan Ilahi.

Hidup yang menutup kejutan Ilahi nampak dalam berbagai hal seperti rasionalisasi, matematisasi, akurasi, terukur, terkalkulasikan, dan logis. Semua hal itu dbuat untuk menutup kejutan Ilahi. Di sisi lain, perubahan yang dialami sang ibu (hayati ay. 16 dan ay. 25) menunjukkan ada cara lain untuk memahami kejutan Ilahi. Ini tidak berarti hal yang rasional, matematis, akurat, terukur, terhitung dan logis tidak penting atau ditolak. Tidak. Semua itu penting. Tapi, itu semua jangan dibuat untuk melenyapkan kejutan Ilahi. Tetap ada ruang untuk kejutan Ilahi di setiap perencanaan yang dibuat.

Oleh karena itu, perikop ini mengajak kita untuk memahami bahwa rencana Tuhan bagi kita adalah tetap teguh bersama Dia saja tanpa menghilangkan hal yang rasional, matematis, akurat, terukur, terhitung dan logis.


Source: Sabda Bina Umat

Categories: Sabda Bina Umat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *